::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MELIHAT GELIAT PERGURUAN TINGGI ISLAM DI BALI (1)

STAI Denpasar, Oase di Daerah Non Muslim

Selasa, 18 Juni 2019 11:30 Daerah

Bagikan

STAI Denpasar, Oase di Daerah Non Muslim

Denpasar, NU Online
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di Denpasar Bali berdiri sebuah perguruan tinggi Islam, yaitu Sekolah Tingggi Agama Islam (STAI) Denpasar. Sekolah tinggi  yang terletak di Jalan Angsoka Cargo Permai I/12 Ubung, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar  ini dirikan oleh tokoh NU setempat, HA Zaini Musthofa (asal Bojonegoro) tahun 2008.

Menurut Ketua STAI Denpasar, Jumari pendirian sekolah tinggi tersebut didasari  oleh keinginan untuk mengakomodasi pelajar Muslim yang hendak memperdalam ilmu agama tanpa harus merantau ke luar Bali. Sebab, idealnya pulau Dewata itu memang harus menyediakan sarana pendidian tinggi Islam untuk warga lokal, karena tidak semua warga Muslim punya kemampuan dan  kemauan belajar di luar Bali.

“Jadi selain untuk mengakomodasi warga lokal, juga sebagai syiar Islam di  daerah yang penduduknya mayoritas non Muslim,” jelasnya sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Senin (17/6).

Bali dikenal sebagai daerah wisata dengan populasi penduduk muslim hanya 13,37 persen dari total sekitar 3.890.757 jiwa. Jumlah Muslim di Denpasar mencapai 225 ribuan jiwa. Angka tersebut terbanyak dibanding jumlah  Muslim di 8 kabupaten lainnya.

“Karena itu, saya rasa sudah selaiknya Denpasar mempunyai perguruan tinggi Islam sendiri,” tukas Jumari.

Walaupun demikian, Sekretaris II Forum Rektor Perguruan Tinggi NU itu menyadari bahwa untuk survival perguruan tinggi Islam di Denpasar bukan perkara mudah. Kalau mendirikannya tidak sulit tapi untuk ‘menghidupkan’ itu yang susah. Salah satu alasannya adalah karena Muslim di Bali adalah minoritas. Selain itu, minat warga untuk melanjutkan ke pergurun tinggi Islam, masih kecil. Mereka tentu lebih memilih perguruan tinggi mainstream, semperti Universitas Udayana, karena pertimbangan kualitas dan prospek masa depan.

“Tapi alhamdulillah, kami bisa eksis hingga  hari ini, dan kami terus berjuang untuk membesarkan kampus ini,” terang Jumari.

Memang, untuk eksistensi sebuah lembaga pendidikan  Islam di tengah arus dominan kehidupan nom Muslim, butuh perjuangan dan kesabaran. Yang pasti, STAI Denpasar harus tetap eksis demi misi keislaman yang sejuk dan bermartabat.

STAI Denpasar tak ubanya bagai  oase di tengah padang tandus tanpa aliran air setespun. Akhlaq mulia, Islam yang elegan, dan toleransi yang  dijunjung tinggi, itulah air (kesejukan) yang dipancarkan dari kampus STAI Denpasar. (Red: Aryudi AR).