::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menag Ajak Milenial Beragama secara Moderat

Rabu, 26 Juni 2019 09:45 Nasional

Bagikan

Menag Ajak Milenial Beragama secara Moderat
Peserta pelatihan Literasi Informasi bagi Generasi Milenial.
Jakarta, NU Online
Perbedaan merupakan fitrah yang tidak bisa dibantah. Sesuatu yang sudah niscaya sulit ditolak. Namun, sebagai umat Islam, penting menempatkan posisinya berada di tengah, wasatha atau moderat.

"Mari kita mampu beragam secara moderat," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjadi pembicara pada Pelatihan Literasi Informasi bagi Generasi Milenial di Aston Kartika Hotel, Jalan Kyai Tapa No 101, Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Senin (24/6).

Lukman menegaskan bahwa bukan memoderatkan agamanya karena agama Islam memang sudah moderat. Tetapi, yang ia maksud adalah cara pandang kita dalam memahami ajaran agama haruslah moderat.

"Moderasi beragama, cara kita beragama harus senantiasa dalam jalurnya yang wasatha (moderat)," jelas Lukman.

Sebab, katanya, kita dituntut untuk menjadi umat wasatha, yang di tengah tidak condong pada ekstremitas, baik itu tekstualis yang hanya mengandalkan nalar teks dan menafikan konteks sehingga menjadi radikal, ataupun yang terlalu mengedepankan logika konteks dan mengurangi peran teks.

Lukman mengingatkan agar jangan sampai terjebak, terjerumus, ataupun terjerembab pada dua kutub ekstrem tersebut.

Ia mencontohkan wafatnya Khalifah Sayidina Ali bin Abi Thalib. Adalah Abdurrahman bin Muljam, sosok yang hafal Al-Qur'an, puasa setiap hari dan tidak pernah tinggal shalat malam yang membunuh menantu Nabi Muhammad Saw. tersebut. Abdurrahman, kata Lukman, memahami ayat hanya secara teks saja. Akibatnya fatal.

Oleh karena itu, Lukman menyampaikan agar seimbang dalam memahami agama, yakni memperhatikan teks karena sumber utama Islam itu teks. Di waktu yang sama juga tidak bisa mengenyahkan konteks sebagai latar turunnya ayat atau hadis tersebut.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam ini dilakukan guna menjembatani pengetahuan keislaman ke dunia digital sehingga mudah diakses oleh generasi milenial yang semuanya serba digital.

Selain Menteri Agama, hadir pula Staf Ahli Menteri Agama Oman Fathurahman, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Sekretaris Bimas Islam Tarmizi Tohor, Cyber Crime Polri, dan Dewan Pers Indonesia memberikan materi dalam pelatihan tersebut. (Syakir NF/Kendi Setiawan)