::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Mustofa Aqil Siroj: Mondok Jangan Sentuh Hape

Rabu, 26 Juni 2019 23:00 Daerah

Bagikan

Kiai Mustofa Aqil Siroj: Mondok Jangan Sentuh Hape
Kiai Mustofa Aqil Siroj saat menerima santri
Cirebon, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek Cirebon Jawa Barat KH Mustofa Aqil Siroj menandaskan, santri dilarang keras menyentuh telepon seluler atau hape ketika dalam proses pembelajaran di pesantren. Pasalnya, hal itu akan mengganggu santri dan juga proses pembelajaran itu sendiri. 

“Kalau mau nyantri, jangan ingat hape, motor, apalagi tivi,” tandas Kiai Mustofa kepada para santri dan wali santri yang sowan ke ndalem, kompleks pondok, Selasa (25/6).

Menurut Kiai Mus, bila santri masih membandel, maka akan dikenakan sanksi tegas dari pondok. Dan alangkah baiknya, mundur saja dari pondok sebelum masuk ke pondok kalau masih punya keinginan melihat hape, motor, ataupun melihat televisi.

“Siap mematuhi aturan ini? Kalau tidak sanggup lebih baik pulang saja sekarang, ga usah mondok di sini!” ucap Kiai Mustofa dengan tegas.

Kepada para santri, Kiai Mustofa juga berpesan agar setiap hari mendoakan kedua orang tuannya, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal. "Berdoalah untuk kedua orang tua dengan doa selamat dan sehat, sehingga bisa selalu ngopeni," pintanya. Demikian juga orang tua, lanjutnya, tugasnya berdoa untuk anaknya dan mencari rejeki yang banyak. Sedangkan pengasuh menjalankan kewajiban mengasuhnya dan mendoakan santri agar kelak bermanfaat dan saleh salehah.

Kiai Mustofa merasa bangga karena banyak anak-anak yang tertarik dengan pendidikan di pondok pesantren. Termasuk penerapan disiplin tidak menggunakan hape. Selama berada di pesantren tidak menjadi masalah bagi santri. Peraturan awal yang diterapkan tersebut, menjadikan santri konsentrasi dalam proses pembelajaran.

Rais PBNU ini memiliki lebih dari empat ribu santri mukim. Namun bila ditambah dengan santri kalong dan anak-anak sekolah di lingkungan KHAS mencapai delapan ribu santri. Aktivitas santri sudah mulai berjalan, meskipun saat ini tengah libur sekolah. Secara bergelombang, santri beserta orang tua atau wali santri masing-masing sowan ke rumah kiai. 

Suasana pesantren sangat ramai, ditambah dengan para pedagang tiban yang berjajar di sekitar jalan pesantren. Kehadiran pesantren menambah geliat ekonomi warga setempat makin hidup dan produktif. (Wasdiun/Muiz)