::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pejuang NU Pandeglang Itu Kini Telah Tiada

Rabu, 10 Juli 2019 11:45 Daerah

Bagikan

Pejuang NU Pandeglang Itu Kini Telah Tiada
Jakarta, NU Online
Keluarga Besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pandeglang tengah berduka. Kiai sepuh yang juga Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pandeglang-Banten tahun 2006-2011, KH Tb Zainal Arifin telah kembali ke rahmatullah pada Senin (8/7) malam. 

Wafatnya pejuang NU di tanah jawara itu sontak mengagetkan masyarakat Banten, terutama pihak keluarga kerabat dan santri Pesantren Huffadz Manbaul Qur’an, Sukahati-Labuan. Sebagai seorang ulama, Kiai Zainal Arifin memiliki banyak kontribusi yang tidak akan dilupakan oleh keluarga, pesantren, masyarakat dan bangsa terutama dalam hal mendidik dan membina masyarakat dalam bidang pemahaman agama. 

Dedikasinya yang tinggi untuk membela masyarakat dan umat terutama di Kabupaten Pandeglang membuat masyarakat semakin kehilangan sosok murah senyum ini. Tidak aneh jika sejak beredar informasi wafatnya pengasuh pesantren Huffadz Manbaul Qur’an ini, kediamannya di Sukahati langsung ramai dikunjungi tokoh, pejabat dan masyarakat yang bertakziah.

Salah seorang kerabat, Aziz Nurdin, mengatakan KH Tb Zainal Arifin merupakan sosok yang menjadi panutan masyarakat. Sosoknya yang tekun, shaleh  dan murah senyum membuat masyarakat semakin dekat dengannya. 

Semasa hidup,lanjut Aziz Nurdin, KH Tb Zainal Arifin memiliki dedikasi yang tinggi terhadap umat terutama untuk Nahdlatul Ulama. Beliau penyemangat para pengurus NU di Pandeglang. Bahkan, beliau rela mengorbankan segalanya demi membela umat dan NU. 

“KH Tb Zainal Arifin ini sosok yang shaleh, yang santun tokoh yang luar biasa, orangnya murah senyum,” katanya dihubungi NU Online di Jakarta, Rabu (10/7). 

Ia menuturkan, sikapnya kepada santri sangat ramah jarang sekali marah, cara mengajarnya mudah dipahami sehingga santri yang belajar padanya merasa betah. 

“Hal yang bisa diteladani oleh seluruh warga NU dari sosok beliau, ia tegas memiliki komitmen yang kuat dalam membela umat dan NU. Ia pernah bilang bahwa dari dulu saya NU maka sampai kapanpun saya NU,” tuturnya. 

Selamat jalan pejuang NU, semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya, Amin. Alfaatihah. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)