::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ikhtiar, Seni Mencari Takdir

Kamis, 11 Juli 2019 21:45 Daerah

Bagikan

Ikhtiar, Seni Mencari Takdir

Jember, NU Online
Banyak orang bertanya-tanya kenapa harus ada takdir. Sebab, sehebat apapun yang manusia lakukan untuk meraih sesuatu, namun jika takdir tidak menghendaki, maka usaha tersebut tentu sia-sia, betapapun maksimalnya. Tak jarang kegagalan tersebut berujung pada keputus asaan.

“Justru karena itulah ada ikhtiar, dan di situlah nikmatnya hidup,” tukas Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat mengisi pengajian Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di aula kantor PCNU Jember, Selasa (9/7).

Menurutnya, qodlo’ dan qodar merupakan rahasia Allah. Tidak ada satupun manusia yang tahu terhadap takdir Allah. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya adalah rahasia Allah. Bisa berhasil, tapi bisa juga gagal. Karena rahasia Allah, maka manusia wajib berikhtiar untuk mencapai takdir.

“Ikhtiar adalah seni untuk mencari takdir Allah,” ucapnya.

Gus Aab menegaskan, hikmah takdir yang berada dalam domain kekuasaan Allah, membuat kehidupan menjadi dinamis, tidak monoton. Untuk mencapai apapun, manusia harus berikhtiar, dan dari situlah terjadi interaksi antar sesama manusia.

“Kalau manusia tahu takdir, tidak akan ada Pilpres, Pileg dan sebagainya. Sebab untuk apa susah-susah nyaleg kalau hasilnya sudah diketahui, gagal misalnya. Tapi karena tidak ada yang tahu takdir, maka usahapun dilakukan, dibetuklah tim sukses, baliho-baliho dipasang, akhirnya ekonomi juga jalan,” terangnya.

Dalam berusaha, manusia tak perlu memikir soal takdir. Sebab jika ikhtiar selalu dibayangi oleh takdir, maka sedikit banyak tentu akan mengurangi semangat manusia dalam berikhtiar. Justru yang perlu dipegang teguh adalah firman Allah yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah apa yang ada dalam diri mereka.

“Jadi untuk memulai berusaha, ayat itu harus dipegang teguh, harus ditanamkan dalam-dalam bahwa nasib kita yang menentukan adalah kita sendiri,” jelasnya.

Namun ketika usaha yang dilakukan sudah sangat maksimal baik dengan doa maupun usaha, maka sandaran dalilnya adalah ‘Allah Maha Kuasa atas segala-galanya’. Dan itu harus disadari sesadar-sadarnya oleh umat islam.

“Dengan begitu, jika kebetulan hasil ikhtiarnya tidak sesuai ekspektasi, maka manusia bisa menerimanya,” pugkasnya. (Aryudi AR)