Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU Didirikan untuk Melawan Wahabisme

Rabu, 18 Maret 2009 15:11 Warta

Bagikan

Jakarta, NU Online
Ketua PBNU Masdar F Mas’udi menyatakan salah satu pemicu didirikannya NU adalah untuk menghadapi Wahabisme yang kalau itu mulai menguasai Arab Saudi. Sebuah utusan yang dinamakan komite hijaz dikirim ke Makkah untuk meminta diizinkannya kebebasan beribadah.

Dalam sejarahnya, pasca dinasti Saud yang merupakan pengikut setia Wahabi berkuasa, mereka menghancurkan berbagai peninggalan zaman Nabi melarang kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan madzab empat.<>

”Sayangnya, saat ini banyak orang yang tidak tahu sejarah tersebut dan mempertanyakan mengapa gerakan radikal tersebut harus dihadapi,” katanya.

Tugas lain yang diemban oleh NU yang juga menjadi cikal bakal pendirian NU meliputi gerakan Nahdlatul Wathan atau gerakan pendidikan kesadaran Islam dan kebangsaan, gerakan taswirul afkar atau pemikiran keagamaan yang terus mengikuti tantangan zaman.

”Sebuah organisasi keagamaan harus memiliki pemikiran keagamaan yang terus berkembang. Kita boleh berfikir semaju mungkin, lalu batasannya dimana, asal tidak menghalalkan yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan, ya boleh-boleh saja,” tandasnya.

Bagaimana agenda-agenda besar ini bisa dilaksanakan. Yang paling penting dilakukan oleh NU saat ini adalah menata organisasi karena dengan tugas berat seperti itu, tidak mungkin NU sebagai kendaraan mampu menahan beban berat jika tidak beres. Sayangnya, NU mengalami proses penindasan selama 30 tahun lebih Orde Baru yang menyebabkan jadi terlambat menata diri.

Untuk mendukung kinerja organisasi ini, Masdar mengusulkan tiga komponen yang mengisi NU, yaitu tanfidziyah yang terdiri dari para profesional yang siap bekerja dan melayani ummat, para ulama dan kiai yang menjadi tumpuan moralitas bangsa dan para tokoh spiritual yang menangis untuk umat dan bangsa.

Menurutnya, cukup banyak profesional non struktural NU yang bersedia membantu melakukan kerja-kerja keummatan. ”Mereka sepakat dengan moderasi agama yang dijalankan oleh NU,” terangnya. (mkf)