::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengajar Ngaji Anak Muhammadiyah dan MTA

Rabu, 04 September 2013 13:01 Daerah

Bagikan

Solo, NU Online
Idealnya setiap selesai shalat magrib, anak-anak sudah berhenti bermain dan bergegas mengaji atau belajar. Tapi tidak demikian yang terjadi di perkampungan Sondakan di Kota Solo, Jawa Tengah.
<>
Setelah magrib, anak-anak justru tetap bermain dengan asyiknya. Peraturan jam wajib belajar yg tertulis di setiap sudut jalan mulai pukul 18.30-20.00 seolah hanya sebagai pajangan saja.

Namun suasana berubah ketika seorang alumni Ponpes Al-Hikam Malang, Ahmad, tinggal di sana dan mengajar ngaji anak-anak. Ia ingat pesan kiai dan ustadznya: amalkanlah ilmu yang telah diperoleh sewaktu di pesantren dulu walaupun hanya alif, ba dan ta.

Ahmad mengontrak sebuah rumah di kampung itu bersama istrinya, seorang buruh pabrik buku yang sehari-hari bekerja dari pagi sampai sore ini. Dengan sabar, Ahmad mengajak satu persatu anak untuk mengaji di kontrakannya. Alhasil, sekarang sudah puluhan anak usia rata-rata 4-11 tahun mengaji padanya. 

Meski ia orang NU, Ahmad tak hanya mengajar ngaji anak-anak orang NU. "Di sini ada yang memang netral, ada yang dari Muhammadiyah, MTA, bahkan ada yang orang tuanya menjadi petinggi LDII,” katanya.

Selain mengaji cara membaca al-Qur’an, Ahmad juga membimbing santri-santri kecilnya itu untuk memimpin baca shalawat, tashbih, tahmid, dan doa-doa.

Bagi Ahmad, bekerja ibarat memasak sate, dan mengajari anak-anak ngaji sebagai bumbunya, keduanya tak boleh dipisahkan, agar sate yang dimasak sedap saat disantap. (Ririn Setyowati/Mahbib)