::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Al-Wafa’ Gelar Doa Bersama di Malam Rabu Wekasan

Rabu, 17 Desember 2014 16:00 Pesantren

Bagikan

Bandung, NU Online
Pondok Pesantren Al-Wafa’ Cileunyi, Kabupaten Bandung, menggelar doa bersama di malam Rabu Wekasan yang diikuti oleh puluhan santri di masjid setempat usai melaksanakan shalat Isya’ berjamaah, Selasa (16/12) malam.
<>
“Proses-proses di pesantren mengandung nilai-nilai luhur, niat yang tulus, nilai peran aktif ulama, nilai peran aktif masyarakat. Untuk menghidupkan suasana seperti itu, salah satunya merayakan Rabu Wekasan yang jatuh pada akhir bulan shafar,” kata pengajar di Pesantren Al-Wafa’, H. Abdul Mu’iz Amin usai memimpin doa Rabu Wekasan dan jamaah shalat tolak bala’.

Ia menilai bahwa Rabu Wekasan mengandung nilai-nilai, di antaranya gotong royong dalam berdoa. Dahulu, katanya, orang berbondong-bondong datang menuju suatu masjlis untuk berdoa supaya tidak ada lagi musibah atau kriminal.

“Pada akhirnya jangan tinggalkan shalat yang tujuan lidaf’il bala’ (menolak bencana),”  ungkap mahasiswa S2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Maka dalam hal ini, ia berupaya ingin mengangkat nilai-nilai ulama sebagai warisan leluhur. “Bukan sebagai bentuk peribadatan secara kultur, akan tetapi sebagai bentuk pengejawantahan warisan dari ulama-ulama kita,” imbuhnya.

Mu’iz menerangkan, nilai tradisi ada dua. Pertama, tradisi yang berbumbu dengan mitos dan itu yang perlu dijauhi. Kedua, kalau tradisi yang bermutu yang mengedepankan pendidikan, realita sosial, budaya, tentu tradisi ini harus selalu diangkat dan dilestarikan.

“Tradisi itu bukan menjadi ritus atau mitos, akan tetapi tradisi itu menjadi niai budaya, sosial, antara pemeluk agama-agama setempat. Untuk itu, santri harus pandai-pandai mengungkap bahasa-bahasa tradisi atau bahasa mitos. Maka bagaimana santri harus cakrawala berfikirnya terus ditambah, dengan tidak lupa dengan mengenai menjaga warisan-warisan leluhur,” tuturnya mengingatkan kepada santri-santri. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)