::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

Senin, 02 November 2015 03:03 Internasional

Bagikan

Kesamaan Amaliyah Muslim Tiongkok dengan Indonesia

Yun Chuan, NU Online
Selama kunjungan silaturahim ke Tiongkok, para utusan tokoh agama seolah sedang berada di Indonesia. Amaliyah harian usai shalat dan sejumlah tradisi masyarakat muslim di sana terdapat banyak kesamaan dengan mayoritas masyarakat di Indonesia.
<>
Dari sisi kelengkapan bangunan yang ada di masjid misalnya, nyaris tidak ada perbedaan dengan di tanah air. "Di Tiongkok, sejumlah masjid juga memiliki mimbar dan tongkat seperti layaknya di Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (1/11). Mimbar digunakan untuk para khatib yang menyampaikan materi pesan ketika shalat Jum'at. Sedangkan tongkat digunakan untuk bilal yang kemudian diserahkan kepada khatib ketika menyampaikan khatbah.

"Pada bangunan mihrab, juga terdapat tasbih yang digunakan untuk memastikan jumlah bacaan ketika wirid," tandas Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini.

Hal lain yang menggembirakan saat kunjungan kerjasama antara sejumlah ormas keagamaan Jawa Timur dengan komunitas muslim Tiongkok ini adalah jumlah penduduk muslim yang lumayan besar. "Ketika rombongan bertemu dengan imam Masjid Achung di kawasan Yun Chuan, diketahui bahwa jumlah penduduk muslim di kawasan ini mencapai 36 persen dari 600 ribu jiwa yang ada," ungkap Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Tidak berhenti sampai di situ. "Malah dari tokoh agama setempat, kami mendapat keterangan bahwa ada sekitar 400 masjid dan juga sejumlah pesantren," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Demikina juga masyarakat muslim setempat juga gemar berhimpun dan mendirikan organisasi kegamaan atau jam'iyah. "Keberadaan jam'iyah islamiyah ini juga berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keagamaan masyarakat," katanya.

Dari penjelasan Imam Masjid Achung pula yakni Kiai Syuaib, kerab diselenggarakan pengajian dan lomba pembacaan tilayah al-Qur'an di berbagai tingkatan, termasuk antar pesantren. "Semaraknya kegiatan keagamaan ini juga tidak lepas dari keberadaan walikota Yun Chuan yang juga seorang muslimah," terangnya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya, juga menandaskan bahwa amaliyah warga sekitar layaknya kaum nahdliyin di tanah air. "Secara akidah, penduduk kebanyakan mengikuti Imam Maturidi, dan fikihnya lebih dominan Imam Hanafi," katanya.

Kerinduan suasana ibadah seperti saat di Indonesia sedikit terobati lantaran dilantunkannya dzikir bakda shalat rawatib dengan suara keras. "Demikian pula keberadaan mimbar dan tongkat menjadi pengingat suasana dan nuansa keagamaan layaknya di tanjah air," pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut, rombongan PWNU Jatim bergabung dengan 20 pemuka agama Islam dari propinsi ini. Mereka melakukan kunjungan ke sejumlah destinasi yang berbuansa agama. Rombongan adalah perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI Jatim.

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Oktober hingga 4 November ini bertujuan membangun silaturahim antara para pemuka agama Islam.  Rombongan dari PWNU Jatim terdiri dari KH Anwar Manshur (Pjs Rais Syuriah), H Ahmad Shiddiq (Wakil Ketua), Prof Ach Muzakki (Sekretaris), H Misbahul Munir dan H Husnul Yaqin selaku Wakil Sekretaris. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Foto: KH Abdurrahman Navis di salah satu masjid di Tiongkok.