Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Hj Fatimah, ibunda Ketua PBNU H Imam Aziz, wafat Jumat (24/2) pukul 17.15 WIB di Pati, Jawa Tengah ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Senin, 23 November 2015 12:05 Pustaka

Bagikan

Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Di zaman yang serba modern ini, segala hal dituntut harus sesuai dengan akal (rasio), sehingga apa-apa yang bertentangan dengan kaidah akal, hukumnya wajib ditolak. Hal ini pula yang melatarbelakangi muncul dan berkembangnya kaum-kaum modernis sebagai bentuk perlawanan dari kaum tradisional yang mereka pandang banyak amaliyah-amaliyahnya bertentangan dengan rasio, sehingga mereka mencap para kaum tradisionalis sebagai kaum yang gandrung pada Takhayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC).<> Sehingga gerakan purifikasi mereka adalah “Kembali kepada Al-Qur’an dan al-Hadist”, padahal untuk kembali kepada dua sumber hukum tersebut tidak semudah apa yang mereka gembor-gemborkan. Dibutuhkan berbagai disiplin keilmuan untuk memahami apa yang ada dalam dua sumber tersebut,

Pada kesempatan ini, Abdul Aziz Sukarnawadi menulis sebuah karya yang mengupas tentang keagungan-keagungan yang dimiliki oleh Sayyidina Muhammad, yang selama ini banyak yang tidak diketahui oleh umat Islam pada umumnya. Dalam buku ini membahas tentang beberapa tema, contohnya tentang maulid, tentang Rasulullah sebagai ciptaan pertama Allah yang paling agung, dari dan untuk beliau terciptalah alam semesta beserta isinya, tentang memuji Rasulullah dapat menyembuhkan penyakit lumpuh dan membuka segala gerbang kebajikan, tawasul, keistimewaan dan kesaktian shalawat dan masih banyak yang lain. Namun di sini saya menjabarkan sedikit dari isi yang ada dalam buku ini.

Sayyidina Muhammad, makhluk pertama

Jauh sebelum terwujud ruang dan masa, sebelum tercipta langit dan bumi, sebelum tergagas siang dan malam, sebelum terencana dunia dan akhirat, bahkan jauh sebelum terbina Arsyi, Kursi, Lauh dan Qalam. Ketika itu tiada satu pun bernama makhluk, yang ada hanyalah Sang Maha awal tanpa permulaan, Ialah Allah Swt. Lalu Allah Swt berfirman dalam hadis Qudsi: “Pada awalnya Aku tidak diketahui, maka Aku menciptakan makhluk lalu aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka, dan dengan-Ku mereka mengenal-Ku.” Maka bekehendaklah Dia untuk mencipta, Ia memulaikan kekhaliqan-Nya untuk yang pertama kalinya. Sehingga terciptalah sebuah cahaya sakti nan abadi yang amat dikasihiNya. Cahaya itu pun menjadi asal muasal segala makhluk sejagat raya dan alam semesta. Darinya, karenanya, dan untuknya lah tercipta segala yang ada. Cahaya keagungan yaitu Sayyidina Muhammad Saw. dengan simbol al-Haqiqoh al-Muhammadiyah atau an-Nur al-Muhammad. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita: “Aku telah menjadi cahaya di hadapan Tuhanku empat belas ribu tahun sebelum proses penciptaan adam dimulai” dan dalam riwayat lain “Aku telah menjadi hamba Allah dan penutup para nabi di saat Adam masih dalam proses penciptaannya.” 

Alasan merayakan maulid

Perayaan maulid nabi adalah salah satu sunah hasanah, yang berlandaskan tuntutan agama. Bahkan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menekankan bahwa Rasulullah lah yang pertama kali merayakan maulid tersebut dengan cara berpuasa. Oleh sebab itu, sebagai pengikut beliau, kitalah yang lebih pantas bersyukur dan berbahagia dengan berbagai cara yang mampu kita lakukan, sebab Rasulullah tidak pernah membatasi cara memperingati maulid beliau dengan cara puasa. Perayaan maulid tidak memiliki cara-cara yang khusus dan terbatas, melainkan bebas dilakukan dengan cara apapun selagi dalam koridor halal, positif dan bermanfaat bagi umat dalam rangka meningkatkan cinta dan taat kepada Rasulullah Saw.

Karunia dan rahmat Allah yang terbesar bagi umat manusia bahkan alam semesta adalah Rasulullah Saw. sehingga kegembiraan di musim maulid Nabi sesungguhnya merupakan aplikasi terhadap perintah Allah Swt. Meskipun beliau juga wafat di bulan, tanggal dan hari yang sama, akan tetapi bersuka cita memperingati rahmat di sisi Allah lebih baik daripada berduka cita memperingati sebuah musibah. Lagipula kepergian Rasulullah Saw. ke alam hakiki bukanlah musibah yang harus disedihkan, melainkan nikmat baru yang patut diraih kebaikannya, sebagaimana sabda beliau “Wafatku baik buat kalian, karena amal perbuatan kalian diajukan kepadaku. Apabila aku melihat yang baik maka aku bersyukur, namun bila aku melihat yang buruk maka aku mintakan ampun dari Allah untuk kalian.” (HR. al-Bazzar).

Di antara hal-hal yang dipermasalahkan oleh kelompok Wahabi dalam perayaan maulid antara lain, berdiri saat menceritakan kelahiran Rasulullah Saw. sambil membakar kemenyan, lalu meminum air yang tengah disuguhkan dalam majelis. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menjelaskan, semua itu hanyalah ekspresi penyambutan kepada Rasulullah Saw. yang didasari sebuah kepercayaan bahwa arwah beliau mampu menghadiri setiap majelis maulid yang dilangsungkan umat Islam di mana saja. Hal itu tidaklah wajib dan tidak pula haram, karena ia sebatas improvisasi etis dari para pecinta yang sedang membayangkan atau tepatnya merasakan kehadiran Baginda.

Raulullah mencintai muslim Indonesia

Alkisah, ketika pengasuh Pesantren asy-Syifa’ wa al-Mahmudiyah Sumedang KH Muhyidin Abdul Qadir al-Manafi bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah Saw. di Madinah, ada seorang guru Sufi bernama Syekh Utsman melihatnya lalu bertanya tentang nama dan asal-usulnya. Setelah Syekh Ustman mengetahuinya berasal dari Indonesia, Syekh Ustman kemudian menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun sebelumnya.

Syekh Ustman mengakatan, dulu ia bersama gurunya pernah berziarah ke makam Rasulullah Saw. Guru dimaksud memasuki ruangan makam dan bertemu langsung dengan Rasulullah Saw. dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) lalu melihat lautan manusia yang sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Dari lautan manusia yang tak terhingga Jumlahnya itu, ia melirik ke sekelompok orang dan jumlahnya terbanyak di antara sekian lautan manusia yang ada.

Guru Syekh Ustman pun tercengang dan bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “Mereka adalah kekasih-kekasihku dari Indonesia”. Guru Syekh Ustman ini kemudian menangis terharu lalu keluar sembari bertanya kepada para Jamaah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.”

Pada Sabtu malam, 15 Maret 2014, dalam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslim, KH Abdul Qadir Manafi melakukan penjelasan atas berita gembira tersebut yang kemudian ramai disebar di beberapa media massa. Iapun menegaskan kebenaran kisah tersebut, dan ulama yang menerima kabar gembira dimaksud merupakan salah seorang guru Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.

Dari beberapa bab yang disebutkan di atas bahwa tidak semua kebenaran harus didasarkan rasionalitas. Kabar gembira yang menyebutkan bahwa Rasulullah mencintai umat Islam Indonesia patut dijadikan kebahagiaan serta motivasi tersendiri agar kita selalu menjaga Indonesia dalam beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah serta meneruskan dan memperjuangkan amaliyah-amaliyah yang telah ulama-ulama lakukan serta tidak terbuai oleh rayuan gombal dalam slogan yang indah tetapi hanya bualan belaka.

Data Buku 

Judul : Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw; Menyibak Tirai Keagungan Sang Manusia Cahaya
Penulis : H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. MA.
Penerbit : CV. Aswaja Pressindo
Terbitan : I, 2015
Tebal : xviii + 366 Halaman; 15 x 23 cm
ISBN : 602-14838-5-5
Peresensi : M Ichwanul Arifin, Mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya