::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Kamis, 26 November 2015 16:44 Pendidikan Islam

Bagikan

MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang mempunyai kecerdasan sosial, tetapi juga kecerdasan spiritual. Begitu itu juga dengan keterampilan. Guru atau madrasah juga harus mampu mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual berbasis budaya dalam diri anak didiknya. Hal itulah yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Jakarta.<>

Madrasah yang berlokasi di Jalan Karet Pedurenan Masjid, Setia Budi, Jakarta Selatan ini menggulirkan berbagai program untuk mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual kepada peserta didik. Program ini merupakan program yang cukup komprehensif untuk mewujudkan kecerdasan peserta didik dari berbagai aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Program-program tersebut diantaranya adalah shalat berjamaah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di ruang ibadah yang sangat memadai, juga hapalan surat-surat pendek al-Qur’an. Selain itu, ada keterampilan seni musik seperti marawis, qasidah, angklung, pianika, dan drumband. Kemudian ada seni melukis, kegiatan muhadloroh, pramuka. Kemudian untuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam dunia IT, madrasah juga menyediakan laboratorium komputer berbasis internet dan ruang audio visual.

Budaya shalat berjamaah harus ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Karena pada shalat berjamaah terkandung nilai kedisiplinan, ketertiban, dan kebersamaan. Seni musik seperti marawis juga dikembangkan guna melestarikan tradisi musik masyarakat Betawi, selain tari ondel-ondel yang juga diajarkan. Agar peserta didik juga mengenal kebudayaan lain, madrasah juga mengajarkan seni musik angklung, beserta keterampilan lain yang telah dijelaskan di atas.

Bagi MI Darul Ulum, bukan sekadar peserta didik mampu melalukan semua keterampilan tersebut, melainkan menghayati makna yang terkandung dari semua keterampilan berbasis budaya tersebut. Hal ini dilakukan agar kelak peserta didik juga mempunyai semangat (ghirah) untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan berbagai keterampilan berbasis budaya tersebut.

Kepala MI Darul Ulum, Titin Supriatin, SPd mengatakan, bahwa dengan mengembangkan berbagai keterampilan, madrasah semakin diminati oleh masyarakat. “Dalam penerimaan peserta didik baru awal Juni 2015 lalu, Madrasah Darul Ulum telah ditutup sejak awal karena kursi telah penuh. Prinsip ‘Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah’ semakin memasyarakat dengan catatan sebuah madrasah mengembangkan diri,” ujar Titin.

Program tersebut, juga disampaikan Titin, karena MI Darul Ulum memiliki visi, yaitu ‘Menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berakhlak mulia’. Untuk mewujudkan visi dan misi mulia, MI Darul Ulum merekrut guru-guru unggul sebagai staf pengajarnya. Hal ini bukan berarti menafikan sarjana-sarjana pendidikan yang masih mempunyai pengalaman minim, melainkan para sarjana yang senantiasa mau belajar mengembangkan pendidikan madrasah.

Sejarah singkat Madrasah Darul Ulum

Yayasan Darul Ulum Al-Islamiyah berdiri tahun 1976 di Jakarta. Didirikan di atas tanah wakaf kurang lebih 1.000 meter yang diatasnamakan Alm Haji Basir (1908-1971). Perintis pendirian yayasan adalah pasangan suami istri KH M Machfuz Basir, putera alm H Basir dan istrinya, H Chodidjah Djumali. Sepulang dari belajar di Mesir, pasangan ini giat mengadakan pengajian dan majelis taklim, baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua, di sekitar kampung Pedurenan Masjid, Kelurahan Karet Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan.

Cikal bakalnya di tahun 1972 hanya berbentuk pengajian di dalam rumah kediaman warisan orang tua yang dilaksanakan setiap hari, baik pagi, sore maupun malam. Semakin hari jumlah murid semakin banyak dan tidak tertampung lagi. Sehingga di tahun 1976 didirikanlah gedung madrasah dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan bekas bongkaran masjid yang terkena penggusuran.

Saat itu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sore hari, mengingat pagi hari para siswa sekolah di SD. Namun seiring berjalannya waktu, pengajian sore hari itu diubah menjadi madrasah formal yang menekankan pada materi keagamaan.

Setelah meluluskan angkatan pertama Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1982, Yayasan Darul-Ulum kemudian mendirikan pula jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 1985.

Selain pendidikan formal, pembinaan keagamaan lewat berbagai majelis taklim juga dikembangkan. Majelis taklim khusus buat laki-laki diadakan tiap malam Kamis dan untuk ibu-ibu diadakan tiap hari Sabtu pagi. Selain yang bersifat pendidikan dan majelis taklim, Yayasan Darul Ulum juga memiliki aktivitas di bidang sosial dan ekonomi, yang fokus pada penyantunan anak-anak yatim, para janda, dhuafa, dan juga muallaf.

Khusus MI Darul Ulum, sampai tahun 2015 ini telah mencetak 33 angkatan. Terakhir acara Haflah Akhirussanah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015. Saat ini Ketua Yayasan Darul Ulum dijabat oleh H Ramli Rahmat. (Fathoni)

Foto: Para siswa MI Darul Ulum saat belajar memainkan alat musik angklung.