::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mendorong Kemandirian Generasi Muda NU

Jumat, 27 November 2015 22:30 Risalah Redaksi

Bagikan

Gerakan Pemuda Ansor menggelar kongres ke XV di Yogyakarta, 25-27 November. Wapres Jusuf Kalla dalam pembukaan menyampaikan pesan agar para pemuda NU untuk berwirausaha. Pesan seperti ini bukan baru pertama kali dilakukan dan sudah banyak langkah-langkah yang dilakukan agar para pemuda NU memperluas kiprah pengabdiannya dalam berbagai sektor. <>Tetapi, tetap saja pesan tersebut relevan untuk meneguhkan semangat kemandirian warga NU. 

Selama ini, NU dan seluruh perangkat organisasinya dikenal sebagai penjaga keberlangsungan NKRI. Ditengah-tengah gempuran paham ekstrim, NU dengan teguh mengkampanyekan Islam moderat dan toleran, serta melindungi kelompok minoritas. Apresiasi terhadap peran NU itu bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam level internasional, ketika mereka menanyakan kenapa Islam Indonesia bisa hidup dengan damai dan ternyata NU merupakan salah satu faktor penting di dalamnya. Kita patut bersyukur atas apresiasi atas capaian tersebut.

Disamping peran besar tersebut, NU masih menghadapi persoalan internal, terutama terkait dengan tingkat kesejahteraan Nahdliyin. Sektor pertanian yang menjadi sandaran hidup banyak warga NU tak mendapat perlindungan dan dukungan yang memadai dari pemerintah sehingga ditengah-tengah tumbuhnya kelas menengah di Indonesia, kelompok petani merupakan kelompok yang tak mendapat bagian yang memadai dari kue pembangunan Indonesia. Tentu saja sektor pertanian sebagai sumber ketahanan pangan harus tetap dijaga, tetapi warga NU juga harus melihat berbagai sektor lain yang memberi peluang atau memberi nilai tambah dari produk-produk pertanian yang selama ini memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. 

Para pemuda NU yang tergabung dalam Ansor inilah yang bisa menjadi bagian dari pelopor perubahan. Jiwa muda yang penuh inovasi dan mau mengambil risiko sangat cocok menjadi wirausahawan. Sektor wirausaha merupakan sektor yang menjanjikan tingkat kesejahteraan yang lebih baik serta berpeluang tumbuh dalam skala industri. Warga NU bisa terdiaspora dalam berbagai sektor ekonomi yang satu sama lain saling mendukung demi terciptanya kesejahteraan bersama. Berbagai riset membuktikan, kemajuan negara sangat tergantung dengan jumlah wirausahawannya. Semakin besar persentase wirausahawannya, semakin maju negara tersebut. Analogi serupa mungkin bisa digunakan, semakin banyak kelompok wirausahawan dalam sebuah komunitas, maka semakin unggul komunitas tersebut. Ini tentu terkait dengan budaya inovasi dan pengambilan risiko yang dimiliki oleh para wirausahawan. Inovasi kini menjadi semakin penting ketika banyak pekerjaan kini bisa digantikan oleh tenaga mesih seiring dengan kemajuan teknologi. Di Indonesia sendiri, jumlah wirausahawan masih kurang dari dua persen, sehingga diperlukan upaya keras untuk meningkatkan jumlah para wirausahawannya. Ansor, bisa menjadi bagian gerakan besar para wirausahawan NU.

Dalam periode kepengurusan Ansor 2011-2015 ini, Ketua Umum Ansor Nusron Wahid sangat gigih dalam memperjuangkan berkembangnya sektor ekonomi di kalangan pemuda NU. Salah satu indikator Wilayah atau Cabang Ansor berhasil adalah kepemilikan badan usaha. Ini adalah sebuah perubahan sistemik yang memiliki dampak jangka panjang dalam pengorganisasian Ansor ke depan. Tentu hal ini akan membuka mata akan adanya banyak kesempatan, memupuk keahlian, dan merangkai jejaring bagi kader Ansor yang dari waktu ke waktu akan terus berkembang. Apalagi kesadaran akan pentingnya pengembangan sektor ekonomi di lingkungan NU juga semakin terlihat dengan berdirinya Himpunan Pengusaha NU (HPN) dan Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) yang kesemuanya akan saling mendukung. Program yang sangat baik ini tentu harus terus dilanjutkan di kepengurusan periode 2015-2020 karena untuk menumbuhkan sebuah budaya baru, diperlukan waktu yang tak pendek. Sebuah cita-cita besar membutuhkan upaya besar dan ketangguhan melintasi waktu, tetapi segala pengorbanan tersebut akan membawa hasil yang lebih besar.

Jika warga NU semakin berdaya dalam bidang ekonomi, ditambah dengan modal lain yang sudah dimiliki, seperti jumlah pengikut yang besar yang solid, dan tersedianya SDM yang berkualitas, ini akan semakin mengokohkan NU dalam memperjuangkan cita-citanya untuk menjaga Islam moderat dan menjaga keberlangsungan NKRI. (A Mukafi Niam)