::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)

Jumat, 22 Januari 2016 14:02 Fragmen

Bagikan

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)
Untuk membantu kesuksesan jalannya program “Missi Islam”, para kader dipersiapkan sebaik mungkin dengan dibekali berbagai pelatihan. Pembekalan biasanya dilakukan dengan memberikan kursus sentral selama empat puluh hari.

Latihan terdiri dari out door dan in door untuk melatih  para calon da’i agar mereka siap di segala medan. Bila mereka sudah siap, lalu dilakukan kontak dengan Pengurus Cabang NU setempat. Selanjutnya mereka dikirim ke tempat tugas, menetap di sana, dengan seluruh biaya hidup ditanggung oleh PCNU setempat.

Menurut salah satu kader yang terlibat dalam “Lembaga Missi Islam” di tahun 1960-an, H. Ahmad Syaibani Ilham, menuturkan kader yang siap untuk dikirim kemudian dibagi menjadi tiga tingkatan. Pembagiannya berdasarkan jenjang pendidikan yang mereka miliki.

“Tiga tingkatan tersebut, pertama Missi Muda (setingkat SMP), kemudian Missi Dewasa (setingkat SMA) dan terakhir Missionaris (taraf sarjana),” ungkap Syaibani, kepada NU Online, belum lama ini.

Ditambahkan pria yang pernah menjabat sebagai lurah Pucangan Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah itu, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini cukup membantu dakwah Islam, khususnya di daerah terpencil seperti Nias, Irian, Timor, NTT, dan sebagainya.

Sayangnya, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini tak dapat bertahan lama. Dalam perjalanannya, lembaga ini memang tidak pernah dibubarkan, tapi sejak tahun 1982 kegiatannya vakum.

Semasa Muktamar NU di Cipasung tahun 1994, “Missi Islam” pernah coba untuk dihidupkan, namun akhirnya mati kembali. Dalam Muktamar Lirboyo 1999, namanya malah hilang dari Anggaran Dasar NU. Meski demikian, aset-aset yang dimilikinya tetap menjadi milik NU. Bidang garap lembaga ini dialihkan pada LDNU (Lembaga Dakwah NU).

“Di zaman Pak Idham ada yang mau mengurus (Missi Islam,-red), tapi sekarang sudah tidak ada yang mengurusnya,” kata Syaibani, yang juga pernah mengemban amanah Wakil Ketua PCNU Sukoharjo tahun 1964. (Ajie Najmuddin)


Sumber:
- Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)
- Antologi NU