::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

IPNU Jatim: Ada Penjajahan Ekonomi dan Moralitas di Balik Hari Valentine

Selasa, 16 Februari 2016 04:00 Daerah

Bagikan

IPNU Jatim: Ada Penjajahan Ekonomi dan Moralitas di Balik Hari Valentine
Surabaya, NU Online
Dalam seminggu terakhir ini, ulasan tentang valentine’s day atau hari kasih sayang tercatat mewarnai hampir semua lini media. Beragam perspektif yang melandasi kajian hingga kecaman pun silih berganti.

Bagi mereka yang pro valentine’s day berargumen sah-sah saja, karena hal itu dinilai hanya penanda momen, seperti halnya hari Ibu, hari HIV/AIDS dan peringatan lainnya. Sebaliknya, bagi yang kontra beranggapan momen tersebut tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan sebuah perayaan.

Haikal Atiq Zamzami, Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur mengungkapkan, dalam kurun 2-3 hari menjelang valentine’s day, terjadi lonjakan pembelian alat kontrasepsi yang signifikan. Mirisnya, momen ini mayoritas dirayarakan oleh generasi muda, termasuk remaja, pelajar dan mahasiswa.

"Dalam kurun 2-3 hari jelang valentine, di beberapa daerah di tanah air terjadi lonjakan pembelian alat kotrasepsi oleh segmen remaja-mahasiswa. Hal ini menjadi indikasi ancaman serius terhadap degradasi moral generasi muda," jelas Haikal, sapaan akrabnya, Ahad (14/1/2016).

Selain alat kontrasepsi, lonjakan juga terjadi terhadap tingkat pembelian cokelat. Cokelat sejak lama diidentikkan sebagai salah satu simbol penanda V-Day. Menurut Haikal, ada fakta menarik di balik Cokelat dan V-Day ini. Pada kisaran 2004, sebuah situs berita Amerika mengangkat berita utama, "the dark side of valentine day between chocolate industry and child slavery".

"Pada intinya, di balik melonjaknya permintaan cokelat saat V-Day, ada cerita tragis perbudakan anak-anak di Afrika Barat, di Pantai Gading. Karena 42 persen pasokan kokoa sebagai bahan baku cokelat dunia berasal dari sana. Ironisnya terdapat hampir 300.000 anak-anak yang dipekerjakan dengan kondisi dan upah yang jauh dari standar," ungkapnya.

Secuil kisah ini menguatkan indikasi bahwa hari valentine juga merupakan salah satu agenda penjajahan ekonomi gaya baru, dengan target menciptakan generasi konsumeris, yang berujung pada pola perbudakan oleh pemilik modal besar terhadap masyarakat ekonomi lemah.

Pihaknya menilai valentine day adalah sebagai alarm ancaman terhadap kemerosotan moral generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, Haikal menyatakan perlu adanya wadah pembelajaran di luar kelas yang mampu memfasilitasi proses pemahaman sejak dini, tentang tugas besar generasi muda di tengah ancaman dan tantangan perkembangan  zaman.

"Jangan sampai momentum valentine’s day ini sekadar menjadi alarm tahunan yang terus berulang. Alih-alih sebagai alarm penggugah kesadaran untuk bergerak, justru akan menjadi semacam indikator kemerosotan moral tahunan. Semoga pada 14 februari akan datang dan dalam rentan waktu sebelumnya kita semua sadar dan bergerak bersama membentengi dan memperkokoh kesiapan dan ketahanan Generasi muda penerus bangsa," harapnya. (Suta Maji/Mahbib)