::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Mustasyar PBNU KH Mahfud Ridwan wafat, Ahad (28/5). PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni

Senin, 22 Februari 2016 14:01 Daerah

Bagikan

Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni
Pagelaran Seni Lesbumi PCNU Jepara.
Jepara, NU Online
Salah satu komunitas seni Jepara, Teater Sumeh SMK Islam Jepara turut memeriahkan agenda perdana Selapanan Ahad Legi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jepara, berlangsung di Gedung NU, Jl Pemuda 51 Jepara, Sabtu (20/2/2016) malam. 

Malam itu, pegiat teater yang berjumlah enam orang mendramatisasi puisi karya Oki Setiawan berjudul Kiri-Kanan. Dramatisasi yang berdurasi 8 menit digarap apik oleh sang sutradara Oki yang juga Wakil Ketua Lesbumi Jepara ini. 

“Kiri/ kanan/ kiri/ kanan/ kiri/ kanan,” kata itu ditegaskan berulang-ulang para pemain sembari membawa senter. Secara pribadi mereka mencari arah yang dituju. 

“Arah/ kemana/ arah/ kemana/ arah/ kemana.” 

“Aaaaaliran.” 

“Aku aliran A.” 

“Aku aliran B.”

“Aku aliran C.”

“Aku aliran D.”

“Aku aliran mmm… apa ya? Loh ya, anu …mmmm apa ya? Enggak deh.” 

“Pilihlah sesuai pilihanmu/ pilihanmu jangan sampai salah memilih/ boleh kiri/ boleh kanan/ boleh arah mana saja/asal jangan menikung alias mengafirkan diri.

Itulah penggalan pementasan kiri-kanan yang dipersembahkan pelajar sekolah kejuruan ini. Ditanya, tentang pesan dari pentas ini, Oki menerangkan bahwa kita bebas untuk memilih sesuai dengan pilihan kita masing-masing. 

Dalam berdemokrasi, menurutnya, tidak boleh kebablasan tetapi ada aturan main yang harus ditaati. Ia yang juga menjadi pengajar di SMK Islam Jepara ini meneguhkan boleh berbeda asal tidak menyakiti satu sama lain. “Jangan mengubah Nusantara, jangan mengubah Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya mengutip potongan drama ini. 

Dalam kegiatan yang bersamaan dengan serah terima jabatan Lesbumi dari M Nuh Thobroni, ketua demisioner ke ketua baru Ngateman, Mustaqim Umar selaku Dewan Penasihat memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada pengurus baru. 

“Sudah saatnya “kiai” menikmati pagelaran seni. Mereka tidak marah tetapi mendapat ilmu,” katanya. 

PR-nya, lanjut Wakil Ketua PCNU Jepara ini, Lesbumi membuat naskah, setelah positif para kiai diundang untuk menikmati pentas bareng. Untuk nilai apa yang termaktub dalam pagelaran, imbuhnya, kiai diharapkan bisa menerimanya. 

Lelaki yang kerap disapa Pak Mek ini menyebut masih ada sebagian kiai yang melarang penggunaan alat musik. Kiai misal dia hanya membolehkan main rebana. Tetapi hal ini berbeda dengan sosok Habib Luthfi yang tidak melarang bermain musik. 

Dari dua kutub yang berbeda ini, Kabid Dikmen Dikpora Jepara ini malah trenyuh ketika dirinya mengikuti sebuah diklat di Semarang belum lama ini. Pada sebuah sesi, pemateri seorang kristiani memutarkan pembacaan puisi Gus Mus tentang membaca Indonesia yang waktu itu diselenggarakan di salah satu kampus katolik. Dari pemutaran, pembacaan puisi ini mendapatkan aplous dari peserta diklat. 

Alhasil, tugas seniman yang bergerak di Lesbumi ialah menemukan kutub tradisional dan modern ini agar keduanya saling bersinergi. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)