::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berziarah, Santri Futuhiyah Kenang Keistiqamahan Kiai

Kamis, 25 Februari 2016 11:20 Pesantren

Bagikan

Berziarah, Santri Futuhiyah Kenang Keistiqamahan Kiai
KH Ahmad Muthohar bin Abdurrohman, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak
Demak, NU Online
Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, meziarahi makam KH Ahmad Muthohar bin Abdurrohman yang terletak di kompleks makam keluarga pesantren setempat Futuhiyyah Mranggen, Demak.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda Haul ke-11 KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrohman, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Kegiatan yang berlangsung Rabu (24/2) pagi tersebut diikuti lebih dari 300 santri.

Acara diawali dengan pembacaan kasidah, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, kemudian pembacaan Surat Yasin serta diakhiri dengan doa. kegiatan tersebut dipimpin oleh ustadz Abdus Shomad selaku wakil kepala Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.

Menurut Ustadz Abdus Shomad, semasa hidup KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrohman terkenal dengan keistiqamahannya, terutama istiqamah dalam hal sembahyang berjama’ah dan mengaji. Sehingga Kiai Ahmad Muthohar senantiasa berpesan kepada para santri untuk kedua hal tersebut. Ia sering berpesan dengan maqalah al-istiqamah khoirun min alfi karamah (istiqamah lebih baik dari seribu karamah).

Diceritakan, Kiai Ahmad Muthohar rela menuju masjid di kompleks pesantren menggunakan kursi roda meski saat itu dalam kondisi sakit yang membuatnya tak kuasa jalan kaki. Hal itu semata-mata karena ingin melaksanaan shalat berjamaah di masjid dengan para santri. Dan itu berjalan beberapa tahun sampai akhir hayatnya.

Dalam hal mengaji, semasa sakit dan tak kuasa untuk duduk, Kiai Ahmad Muthohar juga berusaha tetap mengajar mengaji meski dengan berbaring di mihrab, sementara para santri duduk mendekat mengelilinginya. Dan itu juga berjalan beberapa tahun sampai akhir hayatnya.

“Harapannya kita sebagai santri kita senantiasa untuk bisa meneladani beliau, terutama istiqamah dalam hal jama’ah dan mengaji,” kata Ustadz Abdus Shomad. (Imam Fitri Khosyi’i/Mahbib)