Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kuliah Umum, STAINU Jakarta-UNU Indonesia Bahas Sufisme Modern

Sabtu, 27 Februari 2016 01:00 Nasional

Bagikan

Kuliah Umum, STAINU Jakarta-UNU Indonesia Bahas Sufisme Modern
Kanan-kiri: Mastuki Hs, Ajat Sudrajat, Abdul Aziz Abacci, dan Haidar Bagir.
Jakarta, NU Online
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia menggelar stadium generale atau kuliah umum, Jumat (26/2/2016) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, kedua perguruan tinggi NU ini juga menggelar diskusi dengan membahas persoalan sufisme modern.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan bertajuk ‘Sufism in the Modern World’ Direktur Pascasarjana Islam Nusantara H Mastuki Hs, dari Sadra Institute, Abdul Aziz Abbaci yang juga intelektual asal Aljazair, dan Direktur PT Mizan Publika Haidar Bagir. Adapun moderatornya yaitu Ajat Sudrajat.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan bedah buku berjudul ‘Pergulatan Islam di Dunia Kontemporer’. Buku yang ditulis oleh Carl W Ernst setelah Peristiwa 11 September itu merupakan pengantar ringkas kepada Islam dan peradaban muslim bagi publik luas, berbasis pada semangat ilmiah, mengangkat isu-isu kunci tentang doktrin dan peradaban Islam sejak kelahiran hingga perkembangan mutahirnya.

Mastuki Hs sekilas menerangkan tentang diskursus tasawuf di Nusantara sejak abad 15 (zaman Wali Songo) berlanjut munculnya ulama-ulama kesohor dari ranah Melayu seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry, Abdurrauf Singkil, dan lain-lain beserta pemikiran tasawuf yang mewarnai sejarah mereka. 

Mastuki juga memaparkan tengang neo-sufisme dan ‘urban sufism”.  Sementara itu, Haidar Bagir menyampaikan tasawuf sangat relevan dengan zaman sekarang, di mana kehidupan manusia yang semakin materilistis dan hedonis. Hal ini juga diamini oleh narasumber ketiga Abdul Aziz Abacci yang berusaha menerangkan hasil penelitian tentang Wahdatul Wujud.

Seminar dihadiri oleh Ketua PP ISNU Ali Masykur Musa, Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi, Ketua PBNU H M Sulton Fatoni, pengurus bidang penjaminan mutu LPTNU Mansur Maksum, Wakil Rektor UNU Indonesi, Ketua I Bidang Akademik STAINU Jakarta Imam Bukhori, dan para mahsiswa yang memadati aula lantai 8 Gedung PBNU Jakarta.

Dalam kesempatan ini, STAINU Jakarta dan UNU Indonesia juga meresmikan Pusat kajian Islam Nusantara yang akan menjadi corong akademis tentang khazanah Islam Nusantara.

Secara khusus, Haidar Bagir sebagai Direktur Mizan mengatakan bahwa di masa yang kana depan mendatang, sangat mungkin dilakukan kerja sama penerbitan buku-buku karangan intelektual Nahdlatul Ulama dan lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya. Tujuannya agar pemikiran-pemikiran intelektual NU dapat dibaca kalangan luas, tidak hanya dalam bentuk disertasi-disertasi. (Fathoni)