::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menyikapi Duka Ala Muhammad

Senin, 29 Februari 2016 19:59 Pustaka

Bagikan

Menyikapi Duka Ala Muhammad
Manusia hidup di dunia tidak akan pernah terlepas dari berbagai musibah yang datang silih-berganti, musibah tersebut tentunya akan membuat hati kita berduka dan terluka. Allah Swt. tidak hanya memberikan kenikmatan secara kasap mata, tetapi juga memberikan cobaan-cobaan untuk menguji semua makhluk-Nya, walaupun pada hakikatnya cobaan-cobaan tersebut juga termasuk sebuah kenikmatan dari Allah yang patut kita syukuri.

Orang-orang yang sadar akan sangat bersuyukur ketika Allah menguji mereka, karena dengan ujian tersebut berarti Allah masih “peduli” dengan keberadaan mereka di muka bumi. Semakin berat ujian yang menimpa maka semakin tinggi derajat kita di sisi-Nya, akan tetapi semua itu kembali pada diri kita sendiri, bagaimana diri kita bisa menghadapi ujian-ujian tersebut dengan hati lapang dan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Namun, jika datangnya musibah itu dianggap sebagai teror dari Allah sehingga kita merasa tidak terima akan ketentuan Allah yang telah ditakdirkan kepada kita, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang menyebabkan diri kita keluar dari Islam, maka bukan derajat tinggi yang kita peroleh akan tetapi kemurkaan Allah yang akan menemani hari-hari kita (na’udzu billahi min dzalik).

Ketika kita ditimpa suatu musibah terkadang tebersit di hati kita, mengapa aku ditimpa musibah seberat ini? Kenapa Tuhan begitu tega membiarkan aku menderita seperti ini? Apakah Tuhan sudah tidak kasihan kepadaku? Padahal tak sepantasnya kita seperti itu, karena hal tersebut dapat menyeret kita pada kemurkaan Allah. Karena Allah tidak akan memberi suatu ujian kepada manusia di luar kemampuannya.  

Musibah bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada kehidupan manusia, hal tersebut sudah barang tentu menimpa masing-masing manusia yang masih bernyawa, sehingga dapat dikatakan bahwa kita tidak mungkin dan tidak akan bisa menghindar dari musibah. Dari hal itu, kita harus menyiapkan diri untuk bisa mengatasi dan menghadapi setiap musibah dengan hati yang tulus dan penuh ikhlas, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Kehidupan Rasulullah penuh dengan penderitaan dan penyiksaan, namun beliau menjalaninya dengan lapang dada sehingga beliau diangkat menjadi manusia nomor satu di muka bumi.

Abdul Wahid Hasan, penulis asal Sumenep menyusun sebuah buku tentang kisah kehidupan Rasulullah yang penuh dengan luka dan duka. Buku yang berjudul “Kala Rasul Berduka” tersebut memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sepak terjang Rasulullah menghadapi berbagai macam cobaan, penderitaan, penyiksaan sampai persoalan rumah tangga yang terus mewarnai kehidupan beliau.

Sejak masih bayi beliau sudah ditimpa musibah yang amat besar. Sebelum lahir, beliau sudah ditinggalkan untuk selama-selamanya oleh sang ayah tercinta, sehingga beliau tidak mengenali seperti apa wajah ayah yang wafat sejak beliau berusia enam bulan dalam kandungan. Menginjak usia enam tahun-an beliau kembali dilanda musibah yang sangat menyesakkan dada, di usia yang sangat muda beliau harus kehilangan ibu (Aminah) yang sangat menyayangi anak semata-wayangnya tersebut.

Pada usia tersebut beliau sudah menyandang status yatim piatu, hidup sebatang kara tanpa seorang ayah dan ibu di sampingnya, tanpa dekapan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya, (halaman 15). Selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya sendiri (Abdul Muththalib) orang yang sangat berwibawa di mata masyarakat. Namun, beliau hanya mengasuh dan menumpahkan kasih sayangnya kepada cucu yang sangat dicintainya itu selama dua tahun, beliau juga menyusul putranya (Abdullah ibn Abdul Muththalib) dan menantunya (Aminah) menghadap Tuhan dalam usia 110 tahun, (halaman 26). Tentu Muhammad yang saat itu berumur delapan tahun merasa sangat terpukul atas kejadian itu, karena sang kakek sangat mencintainya dan memperlakukannya begitu istimewa.

Tidak berhenti di situ, ujian demi ujian terus beliau alami bersama bergulirnya waktu, beliau terus kehilangan orang-orang yang dicintainya yang menjadi pelindung baginya dari berbagai hal yang membahayakan. Mulai dari meninggalnya Abu Thalib (paman yang menjadi benteng pertahanan dan pelindung perjuangan), kepergian istri tercinta—Khadijah al-Khubra (pelindung dan tempat berteduh yang damai), kepulangan Hamzah (paman yang menjadi pahlawan perkasa dalam memperjuangkan agama Islam), kematian putra-putrinya di usia yang sangat dini.

Selain itu beliau juga harus menerima cacian dan makian dari orang-orang yang tidak menyukainya. Lebih dari itu, siksaan secara fisik pun beliau rasakan. Gelombang perjalanan hidup Nabi ini sangat pahit dan menyedihkan. Persoalan rumah tangga juga turut menambah sesaknya dada, salah satunya tentang isu perselingkuhan Aisyah (istri Nabi) dengan sahabat Shafwan ibn Mu’athal al-Sulami al-Dzakwani, (halaman 203).

Namun, ujian-ujian tersebut tak membuat hati beliau berpaling dari Allah, tak tebersit sedikit pun rasa kecewa kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan, apalagi sampai melontarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan. Bahkan dengan beberapa kejadian tersebut membuat beliau semakin mendekatkan diri kepada sang Ilahi. Beliau menghadapinya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

Dengan bahasa yang indah penulis suguhkan kepada pembaca dengan tiga pokok bahasan: Kehilangan Orang-Orang Terkasih, Ganasnya Serangan Musuh, dan Gelombang dalam Keluarga. Buku terbitan Mizan Pustaka ini lebih banyak mengisahkan kehidupan Rasulullah ketika ditimpa musibah. Selain itu penulis terkadang menjelaskan beberapa hikmah yang terkandung di balik datangnya musibah. Ayat Al-Quran dan Al-Hadits juga menambah kekompletan buku ini, berikut arti dan asbabun nuzul-nya.

Hadirnya buku setebal 251 halaman ini turut menyadarkan kita bahwa begitu besarnya perjuangan Nabi dalam menegakkan agama Allah, dan betapa lembutnya hati Nabi dalam menyikapi berbagai persoalan. Sekaligus buku ini mengajarkan tentang arti sebuah ketabahan dan kesabaran. Selamat membaca, semoga bermanfaat!!!

Data Buku

Judul : Kala Rasul Berduka
Penulis : Abdul Wahid Hasan
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan I : Juni 2014
ISBN : 978-602-1337-19-6
Tebal : 251 halaman
Peresensi: Saiful Fawait, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur