::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kala "Septic Tank" Berkahi Dua Ulama Besar

Selasa, 26 April 2016 16:26 Daerah

Bagikan

Kala
Grobogan, NU Online
Saat Kiai Hasyim Asy’ari nyantri di Bangkalan, Madura, suatu ketika ia melihat ada hal yang sedikit tampak aneh di wajah kiainya, Syaikuna Kholil. Kiai Hasyim kemudian bertanya, “maaf kiai, bolehkah kami tahu, ada masalah apa dengan kiai?”

“Oh...ini, cincin ibumu terjatuh di WC,” jawab Kiai Kholil datar.

Tanpa pikir panjang, masih dengan baju rapi, Kiai Hasyim langsung terjun ke pembuangan tinja mencari cincin bu nyai, sampai akhirnya ketemu. Demikian cerita Habib Muhammad bin Husain al Habsyi pada acara Khatmil Qur’an Pesantren At Taufiiqiyyah, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Senin, (25/4).

Dengan modal keyakinan yang mantap, lanjut Habib Muhammad, menjadikan Kiai Hasyim mendapat berkah yang luar biasa. Ia adalah pendiri organisasi Islam yang diikuti banyak orang dengan jumlah terbesar di dunia. 

“Santri semakin mengerjakan hal yang tidak wajar dilakukan oleh banyak santri lain, maka semakin besar pula ia akan mendapatkan keberkahan,” kata Habib Muhammad mengutip nasehat KH Umar Abdul Mannan, Al Muayyad, Solo.

Habib Muhammad mencontohkan, “nguras WC, tempat kotor, itu tidak banyak santri yang mau menjalankan, maka khidmah di situlah berkah akan semakin banyak dan besar.”

Sebagaimana Kiai Hasyim, ada cerita lain yang dialami KH Arwani Amin, Kudus. Sepulang Jum’atan, ia bersama dua sahabatnya bertemu kiai mereka. Kala itu, Mbah Arwani mondok kepada Kiai Manshur, Popongan, Klaten.

Tiba-tiba Mbah Manshur dawuh untuk menguras septictank. Sikap Kiai Arwani sebagai santri tidak seperti dua kawan lainnya. Tanpa ganti baju, Kiai Arwani langsung terjun mengerjakan tugas gurunya, sedangkan kedua temannya tidak langsung menjalankan.

“Akhirnya, kita bisa membuktikan bagaimana hasilnya. Kiai Arwani menjadi kiai besar dan mempunyai sanad Al-Qur’an yang digunakan oleh mayoritas pelajar Al-Qur’an di Indonesia. Ini berkah khidmah (pelayanan) murid kepada guru dengan kemantapan yang sangat tinggi,” tutup Habib Muhammad. (HM Shofi Al Mubarok Baedlowie, Mundzir/Zunus)