::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

DIES NATALIS KE-1 UNUSIA

Juragan Solaria Berbagi Ilmu di Harlah Unusia

Jumat, 17 Juni 2016 23:00 Nasional

Bagikan

Juragan Solaria Berbagi Ilmu di Harlah Unusia
Jakarta, NU Online
Menjadi wirausahawan harus bisa memikirkan untuk mempekerjakan orang lain, sebab banyak juga wirausahawan yang hanya mampu mempekerjakan dirinya sendiri. Itu sebabnya menjadi wirausahawan banyak tantangan yang harus dihadapi.

Demikian disampaikan Owner restoran Solaria, Auliyanto saat mengisi diskusi Menumbuhkan Jiwa Enterpreneur di Kalangan Generasi Muda” dalam rangka Dies Natalis ke-I Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah Menteng Jakarta Pusat, Jumat (17/6) sore.

Menurut Auliyanto, menjadi wirausahawan adalah salah satu pilihan, artinya tidak semua orang harus menjadi wirausahawan. Karena tidak semua orang suka dengan dunia usaha. 

Menjadi wirausahawan sesungguhnya ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan yang dimaksud di antaranya tidak ada yang menyaratkan. “Syarat menjadi wirausahawan adalah tergantung dari diri sendiri. Berbeda dengan menjadi pegawai atau karyawan, ada syarat-syarat yang diperlukan saat melamar, misalnya usia dan ijazah,” kata pemilik 220 cabang restoran ini.

Sementara kekuarangannya menjadi wirausahawan adalah harus mencari tempat usaha, barang dan pendukung lainnya. Orang yang bekerja tidak usah mencari toko atau kios dan barang yang dijual. Sedangkan wirausahawan harus mencari tempat jualan dan barang yang dijual. Maka di dunia wira usaha yang tidak disyaratkan untuk memasukinya, justru syaratnya menjadi lebih banyak.

Hal yang sering dikeluhkan calon wirausahawan adalah ketiadaan modal. Menurut Auliyanto, bisa jadi hambatannya bukan hanya itu saja. Sangat mungkin calon wirausahawan sesungguhnya masih banyak kekurangan, sedangkan dirinya merasa sudah siap menjadi wirausahawan.

“Memiliki modal saja belum cukup. Orang yang memiliki modal kemudian terjun begitu saja ke dunia usaha, bisa jadi modalnya hilang. Kemampuan akan bidang usaha, pangsa pasar (pelanggan),  tingkat kebutuhan, dan pengetahuan akan lokasi usaha, harus diperhatikan dan disiapkan oleh calon wirausahawan,” ujarnya.

“Kebanyakan orang ingin meloncat dan langsung ingin berhasil. Padahal usaha yang besar juga dimulai dari yang kecil,” kata lulusan Akuntansi Universitas Gajah Mada (UGM) yang aktif dalam gerakan sosial dan pendidikan itu.

Kemampuan berwirausaha bisa dipelajari dari lingkungan terdekat, misalnya orang tua atau keluarga yang juga wirausahawan. Tetapi, jika bidang pekerjaan orangtua bukan dunia usaha, seseorang bisa mempelajari dunia usaha di bangku kuliah. Sayangnya saat kuliah, kebanyakan orang tidak menyiapkan diri.

Selain itu, lanjut dia, kemampuan wirausaha dapat dibangun saat bekerja atau dari pergaulan dengan banyak pengusaha lain (networking).  “Untuk membentuk kemampuan wirausaha dapat diupayakan sesusai kemampuan. Kalau kemampuan belum ada, jelas belum bisa menjadi wirausahawan,” kata Auliyanto. 

Pria yang pernah berkecimpung di bidang usaha minimarket hingga memiliki tujuh cabang minimarket itu mengkritisi banyaknya calon wirausahawan yang ingin sama persis suksesnya dengan pengusaha lain yang sudah ada.

“Menjadi pengusaha harus menjadi diri sendiri. Jangan terpengaruh atau meniru-niru orang lain,” tegas Auliyanto. (Kendi Setiawan/Zunus)