Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pengasah Golok

Ahad, 18 September 2016 12:01 Cerpen

Bagikan

Pengasah Golok

Oleh Abdullah Alawi
Pagi, seseorang ternganga di tepi kolam. Geleng-geleng kepala. Lalu menutup mata dengan telapak tangannya, menjerit, kemudian lari sambil beteriak mengelilingi kampung itu.

Kabar tersiar dengan cepat. Orang-orang kampung berdatangan ke tepi kolam itu. Yang mau ke sawah, tak jadi. Yang ke pasar, urung. Yang bepergian jauh, batal. Anak-anak tidak pergi ke sekolah meski dimarahi ibunya. Seisi kampung kini berdesakan di sekitar kolam.  

Pandangan mereka pada satu arah, sebujur tubuh kaku menelungkup di atas batu asahan. Tubuh itu mandi darah. Pakaian hitamnya yang masih melekat di tubuhnya, sobek-sobek seperti bekas sabetan golok.

Orang-orang yang dekat dengan tubuh itu melihat sebilah golok berdarah. Mereka mengenal golok itu.

Untuk beberapa saat, mereka tak melakukan apa-apa. Hanya memandangi dan memperhatikan. Pikiran mereka dipenuhi macam-macam perkiraan dan kemungkinan.
***

Setiap pagi, ketika masih remang-remang tanah, Jalu sudah jongkok di depan batu asahan. Mengasah golok. Terus-menerus, setajam-tajamnya. Sesekali dia berhenti mengasah, memperhatikan mata golok dengan saksama senti per senti, disapu rata sorot matanya yang setajam elang. Sesekali mengguyurkan air ke batu asahan dari ember di sampingnya, mengasah lagi, lagi dan lagi. Padahal orang-orang di kampung itu belum melakukan apapun. Hawa dingin pegunungan membuat orang lebih suka bermalas-malasan dengan selimut di tempat tidur.

Hari mulai terang mengusir bersih sisa-sisa gelap malam. Suhu berangsur-angsur hangat. Matahari telah muncul di timur, memastikan benar-benar akan terjadi siang.  

Di pematang kolam, seseorang mengasah golok tak bosan-bosan. Dia tidak lain Jalu yang mengasah sejak pagi buta. Sekarang sosoknya kelihatan. Berpakaian serba hitam, kepalanya diikat kain hitam. Di pinggangnya terbelit tali pengikat sarung golok yang juga berwarna hitam. Serba hitam sesuai dengan warna kulitnya yang kehitaman. Di sekitar pipi dan dagunya, juga di bawah hidungnya, tumbuh bulu-bulu liar tak terurus yang juga hitam.

Dia masih terus mengasah, seperti mendapat kesenangan luar biasa dari  kebiasaannya itu. Seperti ada dunia khusus yang hanya dia dan goloknya yang tahu dan bisa merasakan.

Sesekali dia berhenti mengasah, menimang-nimang goloknya yang berkilauan menantang cahaya matahari. Pandangan matanya yang tajam menyapu rata setiap senti mata golok itu. Kemudian kembali mengasah seolah goloknya meminta untuk terus dipertajam.

Sesekali dia mengguyur batu asahan dari ember di sampingnya. Sesekali dia mengambil air dari kolam ketika embernya kosong. Setelah puas mengasah, dia menyarungkan golok itu perlahan-lahan, lalu pergi ke arah kemauannya. Keesokan paginya ia akan berada di batu asahan itu lagi.

“Buat apa mengasah golok terus-terusan?” tanya seorang pemuda, suatu waktu.

Jalu berhenti mengasah sebentar. Dia berpaling pada sumber suara dengan tatapan sekilas. Telinganya seolah baru mendengar pertanyaan demikian. Tapi dia tak menanggapi. Malah kembali mengasah.

“Buat apa mengasah golok terus-terusan?” kembali pemuda di sampingnya bertanya dengan nada yang lebih keras.

“Kamu tidak tahu buat apa orang mengasah?” Jalu balik bertanya.

“Buat apa mengasah golok terus-terusan?” sekarang suara itu bernada mengejek. Tiga pertanyaan dengan kalimat yang sama, dengan intonasi berbeda.

“Ya supaya tajam.”

“Terus-terusan? Setiap pagi? Lama pula?”

Jalu diam. Tanda tanya beruntun itu di telinganya terdengar seperti gugatan kepadanya dan goloknya sekaligus. Tapi dia belum berkata-kata lagi.

“Dasar orang tak ada kerjaan!” kata pemuda itu lagi.

Jalu tetap mengasah golok.

“Yang diasah seharusnya bukan golok, tapi otakmu. Oh ya, jangan-jangan kamu tak punya otak. Ha...ha...ha...”

Jalu mengasah golok dengan cepat, bolak-balik tak beraturan menimbulkan suara berdesing-desing.

“Atau yang mesti diasah wajahmu itu yang penuh bintil-bintil supaya lembut dan rata. Supaya perempuan tidak takut. Ha...ha..ha...”

Jalu semakin cepat mengasah. Telinganya merah.

“Sekali-kali, aku ingin merasakan ketajaman golok yang sering diasah itu.”

Jalu langsung berhenti mengasah. Dia bangkit dengan gesit sambil membabatkan goloknya.

Cras! Mata golok tajam berkilauan itu menghantam makhluk di hadapannya. Hanya dalam satu kali tebasan, sosok itu terkulai lemas kemudian jatuh ke bumi selama-lamanya. Tak berkutik dan tak bersuara. Sebatang pohon pisang muda ditebas Jalu. Pemuda yang tadi menghinanya segera kabur ketakutan. Dia lari tunggang langgang. Jalu mengejar dengan golok dihunus.

Kejar-mengejar itu tidak berlangsung lama karena Jalu kehilangan jejak. Mata golok yang berkilauan membuat matanya kabur. Sementara orang yang dikejar sudah memperhitungkan kejadian itu, bersembunyi di sebuah lumbung padi, menutupi tubuhnya dengan butiran-butiran gabah.

Jalu yang amarahnya di ubun-ubun tetap mencari sasaran. Goloknya ditebaskan pada setiap yang ditemuainya. Dia ngamuk habis-habisan selama satu hari satu malam. Orang-orang mengungsi ke kampung tetangga. Kampung dikosongkan.

Dua hari selanjutnya, amarah Jalu reda. Ia kelihatan mengasah golok lagi tiap pagi. Seperti biasa. Dia seperti melupakan kejadian kemarin. Orang-orang kembali dari pengungsiannya. Aparat setempat memperingatkan mereka supaya tidak mengolok-olok Jalu lagi. Dia tak akan mengganggu jika tak diusik. Kalau diajak ngobrol harus dengan sopan.  

“Apa golok itu dijual?” tanya seorang pagi itu kepada Jalu.

Jalu hanya menoleh sebentar ke sumber suara, kemudian mengasah lagi.  

“Apa golok itu dijual? Aku berani bayar mahal. Berapapun maumu.”

Jalu menatap sumber suara lekat-lekat. Dua sorot mata beradu.  

“Golok ini akan kuberikan, tapi setelah memakan satu nyawa,” jawab Jalu.

***

Pagi, dengan cepat kabar tersiar. Orang-orang berdatangan ke tepi kolam. Pandangan mereka pada satu arah, tubuh kaku menelungkup di atas batu asahan.

“Pasti ada yang membunuh,” kata seseorang.

“Ya, dibunuh,” kata yang lain.

“Pengasah golok dibunuh dengan goloknya sendiri. Kita tahu golok Jalu paling tajam di antara golok siapapun di manapun.”

“Golok makan tuan.”

“Mungkin dia bunuh diri, bukan dibunuh.”

“Tidak mungkin! Ini ada orang yang tidak suka padanya, kemudian membunuhnya.”

Beberapa saat mereka hanya mampu bertanya. Lalu terdiam seolah memikirkan jawaban.

“Itu golok bagus,” kata seseorang yang baru datang, “aku akan mengambilnya.”

“Jangan, aku yang akan menyimpannya. Aku RT di kampung ini,” kata seseorang.

“Aku orang yang paling tua di kampung ini. Golok itu aku yang pegang!” tegasnya.

“Tidak, akulah yang pertama kali menggunakan golok itu untuk membunuh orang. Itu golokku.”


Sukabumi, 2006

Cerpen tersebut termuat dalam antologi Gula Kawung, Pohon Avokad dan Cerita Pendek Lainnya yang ditulis Abdullah Alawi dan A. Zakky Zulhazmi dengan penerbitSurah Sastra Nusantara.