::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Donald Trump, Ancaman sekaligus Peluang bagi Dunia

Jumat, 11 November 2016 15:30 Internasional

Bagikan

Donald Trump, Ancaman sekaligus Peluang bagi Dunia
Foto: Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (baytarrahmah.org)
Jakarta, NU Online
Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf angkat bicara terkait kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden ke-45 negara Amerika Serikat. Ia melihat, ada potensi perubahan fundamental dalam keseimbangan politik internasional seiring dengan kepemimpinan tokoh Partai Republik yang terkenal keras terhadap Islam ini.

Perubahan fundamental tersebut, katanya, menyangkut setidaknya dua isu. Pertama, isu tentang arah yang akan ditempuh presiden baru AS ini sebagai solusi atas konflik Timur Tengah secara keseluruhan. Kedua, isu tentang bagaimana negara-negara Islam memposisikan diri di tengah pergaulan politik internasional yang lebih luas.

“Ini bukan semata soal Trump menang di Amerika. Ini merupakan manifestasi dari arus yang bergerak semakin kuat di seluruh dunia Barat—bukan hanya Amerika, Eropa juga. Di Eropa sayap politik kanan menang di mana-mana, seperti Austria, Jerman, Belgia, Inggris, dan lain-lain,” jelas kiai yang akrab disapa Gus Yahya ini.

Perkembangan tersebut bisa membawa angin ketegangan yang lebih luas apabila tidak diikuti dengan kebijakan yang tepat. “Potensi-potensi itu mengandung ancaman besar bagi seluruh dunia apabila tidak menghasilkan platform yang menjamin perdamaian,” tuturnya.

Terkait langkah konkret yang mesti dijalankan, menurutnya, adalah diplomasi aktif kepada semua elemen yang berbeda. Kegagalan mencapai platform itu, tambah Gus Yahya, akan berakibat sangat berbahaya karena memungkinkan timbulnya mengakibatkan konflik antaragama secara global.

Gus Yahya berpendapat, potensi-potensi tersebut merupakan kelanjutan dari sikap para politisi dan masyarakat AS yang sebelumnya memang sudah terbelah dalam menanggapi problem terorisme yang dikaitkan dengan Islam.

Sebagian kelompok di AS mengingkari ekstremisme berhubungan dengan Islam. Termasuk dalam hal ini adalah Obama. Sebagian yang lain menganggap Islam adalah sumber kekerasan itu sendiri sehingga perlu disingkirkan. Pandangan Geert Wilders yang mengatakan bahwa Islam bukan agama melainkan ideologi politik, juga berkembang di AS. Arus inilah yang bagi Gus Yahya menimbulkan pertentangan sebagian kalangan terhadap rezim Obama, yang berarti pula menajamkan persaingan antara Partai Demokrat dan Partai Republik. (Mahbib)