::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Cinta Pandangan Pertama Kiai Wahid Hasyim

Rabu, 28 Desember 2016 16:00 Fragmen

Bagikan

Kisah Cinta Pandangan Pertama Kiai Wahid Hasyim

Ulama juga manusia. Ia memiliki kecenderungan pribadi dan perasaan, termasuk jatuh cinta. Seperti yang dialami kedua tokoh nasional Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Sholihah Wahid. Ada kisah cerita cinta unik dari pertemuan kedua orang tua Gus Dur itu hingga berlabuh pada mahligai pernikahan.

Dulu, tradisi menikahkan anak perempuan di usia cukup muda menjadi hal yang lazim dilakukan, termasuk dialami Nyai Sholihah yang akrab disapa Neng Waroh.  Tak ayal ketika Neng Waroh menginjak umur 14 tahun,  dia sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan guru ayahnya, KH Hasyim Asy'ari. Kiai Hasyim memilih Abbdurahim, putra dari Kiai Cholil Singosari untuk menjadi suaminya.

Sebagai putri yang patuh, ia menerima pinangan laki-laki pilihan Sang Kiai. Akad nikah dilaksanakan bertepatan dengan bulan Rajab, sebagai bulan yang diutamakan. Namun, pernikahan itu hanya seumur jagung, lantaran kurang lebih satu bulan pasca akad nikah, tepatnya bulan Sya'ban, suami Neng Waroh wafat. Neng Waroh pun berstatus janda.

Suatu hari, setelah kurang lebih sekitar dua tahun pasca suaminya wafat, Neng Waroh  mendapat amanat dari ibunya untuk hadir ta'ziah ke salah satu kerabat Kiai Hasyim yang meninggal. Waktu itu, Neng Waroh datang diantar seorang sopir bernama Jayus.

Sesampainya di rumah duka, dan usai ta'ziyah, Neng Waroh bergegas pulang dan menuju tempat parkir mobil. Ketika itu, dia ragu mana mobil kakeknya yang dikemudikan Jayus. Tanpa pikir panjang, Neng Waroh langsung masuk mobil yang sudah ada sopir di dalamnya.

Ketika masuk, Neng Waroh seketika itu duduk di kursi belakang mobil tanpa melihat ke tampat kemudi. Saat duduk, baru tersadar ternyata yang duduk di kemudi bukanlah Jayus sang sopir tapi orang lain. Seketika itu pula, Neng Waroh kaget dan pipinya memerah karena malu seraya ngelonyor pergi menjauhi mobil  yang baru saja ditumpanginya.

Ternyata, Neng Waroh memasuki mobil yang dikemudikan Wahid Hasyim, putra dari Kiai Hasyim Asy'ari, orang yang dulu memilihkan jodoh untuknya. Melihat Neng Waroh yang malu-malu, Wahid Hasyim terpesona dalam pandangan pertama. Ia pun langsung menanyakan siapa gerangan yang salah memasuki mobilnya kepada Jayus. Dari Jayus lah, Wahid Hasyim tahu soal Neng Waroh, putri Kiai Bisri Syansuri.

Usai mendapat informasi itu, selang beberapa hari, Wahid Hasyim seorang diri datang ke rumah Kiai Bisri dengan maksud melamar Neng Waroh. Usai Wahid Hasyim pulang, Neng Waroh diberitahu perihal lamaran itu. Ia hanya menjawab dengan diam yang dimaknai "ya" oleh kedua orang tuanya.

Sementara itu, Wahid yang belum berani memberitahukan isi hati kepada orang tuanya bercerita kepada kakak kandungnya Aisyah. Dengan menceritakan peristiwa lamaran kepada Mbak Yu-nya, dia berharap Aisyah bisa menyampaikan hal itu kepada Nyai Hasyim.

Alhasil, pendekatan yang dilakukan kakaknya berhasil. Lantaran pertimbangan waktu yang berdekatan dengan bulan Ramadan, pernikahan keduanya dilaksanakan pada tanggal 10 Syawal 1356 Hijriah saat Neng Waroh berusia 16 tahun. Mahligai rumah tangga Kiai Wahid dengan Neng Waroh yang usai menikah lebih akrab dikenal dengan nama Nyai Sholihah berlangsung selama 15 tahun. Tepatnya tahun 1953, Kiai Abdul Wahid Hasyim meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.

Dari pasangan inilah lahir enam anak yang di kemudian hari menjadi tokoh yang dikenal publik luas, yakni KH Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. (Mahbib)


Sumber:
Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda (Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim), 2007 (Jombang: Yayasan KH A Wahid Hasyim)
Muhammad Dahlan (dkk), Solichah A Wahid, Muslimah di Garis Depan, 2001 (Jombang: Yayasan KH A Wahid Hasyim)