::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said

Kamis, 05 Januari 2017 08:31 Pustaka

Bagikan

Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said
Bernama lengkap Said Aqil Siroj. Sosok kiai yang akrab disapa Kang Said ini lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Ayahnya, Kiai Haji Aqil Siroj adalah pengasuh Pesantren Kempek. Salah satu pesantren penting di kawasan Kota Cirebon, Jawa Barat.

Lahir dan besar di lingkungan pesantren, membuat Kang Said tumbuh di lingkungan dengan nuansa cinta ilmu. Spirit keilmuan begitu melekat pada diri Kang Said. Maka bukanlah hal aneh, apabila di berbagai kesempatan Kang Said senantiasa mengajak untuk yatafaqqohu fiddin (sungguh-sungguh dalam mendalami ilmu-ilmu agama).

Kang Said, leluhurnya baik jalur ayah maupun ibu adalah sosok-sosok yang alim. Ayahnya, Kiai Aqil Siroj adalah keturunan Kiai Muhammad Said, sosok kiai yang mengembangkan Pesantren Gedongan dan berperan penting dalam perkembangan Islam di Kota Cirebon. 

Bahkan apabila dirunut ke atas lagi, silsilah Kiai Said akan sampai kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Selanjutnya nasab Syarif Hidayatullah akan sampai pada Sayyidatuna Fatimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sementara dari jalur ibu merupakan keturunan Kiai Harun, kiai yang mengembangkan pesantren Kempek, Cirebon.

Mewarisi darah ulama, mewarisi semangat dalam menapaki jalan pengetahuan. Diawali dengan mengaji kepada Kiai Aqil Siroj, sembari menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR), menjadi modal Kang Said dalam pengembaraan keilmuannya. Pesantren Lirboyo menjadi persinggahan pertama Kang Said dalam pengembaraan keilmuan. Dilanjut ke Universitas Tribakti Kediri, hingga Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan langsung Kiai Ali Ma’shum. 

Di pesantren Krapyak ini pulalah, Kang Said bertemu dengan seorang perempuan, Nurhayati, yang kemudian dipersunting menjadi istri pada 13 Juli 1977. Setelah menikah, kota suci Makkah menjadi persinggahan Kang Said selanjutnya. Didampingi sang istri, Kang Said menempuh pendidikan hingga doktoral. 

Strata 1 Jurusan Ushuluddin dan Dakwah Universitas King Abdul Aziz, strata 2 Jurusan Perbandingan Agama Universitas Ummul Qura, dan strata 3 Jurusan Aqidah Filsafat Universitas Ummul Qura. Rangkaian pendidikan ini, berujung dengan dikukuhkannya Kang Said sebagai Guru Besar bidang Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2014. 

Pengembaraan keilmuan Kang Said, menjadikannya mumpuni dalam pendidikan formal maupun non-formal, dan tetap berakar pada tradisi. Ini terlihat, umpama melalui salahsatu statement Kang Said, “Saya beruntung sejak kecil makan berkat, yang diperoleh ketika ayah saya memimpin kenduri dan tahlilan. Mungkin karena sering makan berkat –makanan yang penuh doa– maka saya banyak mendapat kemudahan.” (hal. 1)

Tak hanya itu, buah pemikiran Kang Said juga menjadi sumbangan keilmuan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Bidang tasawuf menjadi contohnya. Kang Said menuturkan bahwa tasawuf dapat menjadi solusi revolusi mental di negeri ini. Peningkatkan spiritualitas melalui tasawuf, adalah upaya yang logis untuk membasmi, umpama, tindakan korupsi (hal. 133). Peneguhan dan komitmen Kang Said akan Islam Nusantara, juga bisa menjadi contoh lain sumbangan keilmuannya.  

Kini sosok kelahiran 03 Juli 1953 ini mengabdikan diri kepada umat, melalui Nahdlatul Ulama. Pengabdian, kethawadlu’an, dan semangatnya menjadi teladan bagi semua kalangan. Buku dengan tebal 186 halaman ini telah menyajikan dengan apik perjalanan hidup Kang Said. 

Bahkan tidak hanya itu. Penjelasan yang mengalir juga membawa pembaca menikmati uraian lain seperti tentang kezuhudan Kiai Aqil Siroj dan uraian tentang pesantren masyhur di Cirebon, seperti Pesantren Buntet, Pesantren Gedongan, dan Pesantren Babakan Ciwaringin. Buku ini menjadi rekomendasi bagi siapa saja untuk mengenal dan meneladani sosok Kang Said bin Kiai Aqil, santri yang profesor itu. Wallahu A’lam. 

Profil Buku:
Judul : Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Penulis : Ahmad Musthofa Haroen
Penerbit : Khalista 
Halaman : xviii+186
Cetakan : I Agustus 2015
ISBN : 979-1283-xx-x
Peresensi : Robbah Munjiddin A, Koordinator Lambaga Pers PKPT IPNU UIN Sunan Ampel masa khidmah 2013-2014; mahasiswa Filsafat Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel.