::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Penjelasan KH Sholeh Darat tentang Thariqah

Senin, 13 Februari 2017 07:30 Ubudiyah

Bagikan

Penjelasan KH Sholeh Darat tentang Thariqah
Oleh M. Rikza Chamami

Memahami thariqah (orang umum biasanya menulis tarekat) memang tidak mudah. Selain banyak definisi dan penjelasannya, thariqah merupakan jalan menuju Tuhan.

Dalam agama Islam, tahapan menuju Allah itu dikenal dengan tiga langkah: syariah, thariqah dan haqiqah. Langkah religius ini dijalani dengan tahapan-tahapan spiritual sebagaimana dilukiskan dalam syi'ir teologi-sufistik Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al Malabari (872-928 H) dalam kitab Hidayatul Adzkiya':

ان الطريق شريعة وطريقة * وحقيقة فاسمع لها ما مثلا

Tulisan ini mencoba menjelaskan ulasan KH Muhammad Sholeh bin Umar (Mbah Sholeh Darat) mengenai thariqah. Dalam kitab karnya berjudul Minhajul Atqiya' fi Syarhi Ma'rifatil Adzkiya' ila Thariqatil Auliya' dijelaskan tentang thariqah. Mbah Sholeh Darat menguraikan sya'ir Syaikh Zauniddin Al Malabari berikut:

وطريقة أخذ باحوط كالورع * وعزيمة كرياضة متبتلا

Thariqah itu sebuah pelaksanaan ibadah dengan semangat keseriusan, tidak memilih ibadah yang ringan saja. Ada usaha serius dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya (taqwa). Salah satu usahanya adalah menjaga penuh konsisten menjauhi keharaman, baik tempat tinggal hingga makanan.

Adapun teknis menjaga dari barang haram itu dengan cara riyadlah (njungkung ngibadah marang Allah [Jawa], beribadah dengan penuh khusyu').

Jadi yang dinamakan menjalani ilmu thariqah menurut Mbah Sholeh Darat adalah melaksanakan syari'ah dengan benar secara dhahir dan batin.

Secara dhahir yang dilakukan adalah menghindari hal-hal haram yang ada pada tempat tinggal dan makanan. Adapun secara batin dengan  ‘azimah (mengharap dengan sungguh-sungguh) dengan cara riyadlah.

Riyadlah yang dimaksudkan adalah dengan berani meninggalkan makan, meninggalkan berbicara dan meninggalkan berkumpul dengan orang. Dengan cara itu, maka akan terjadi empat hal:

1. Tahan melek (buka mata)
2. Tahan lapar
3. Tahan membisu
4. Tahan berpisah dengan manusia

Usaha azimah dan riyadlah itu semata-mata karena niat ibadah kepada Allah Swt. Cara lainnya adalah dengan puasa dan shalat sebagai syarat sahnya ibadah 'indallah.

Jadi thariqah itu menurut Mbah Sholeh Darat dimaknai sebagai proses menjalani ibadah dengan penuh kehati-hatian, penuh kesungguhan dan penuh rasa takut jika ibadahnya tidak diterima Allah Swt. Maka dua cara yang dilakukan dalam thariqah: wara' dan riyadlah.

Adapun untuk menjalani sikap wara', Mbah Sholeh Darat menjelaskan ada empat hal:

1. Wara' al-'Adl
2. Wara' al-Shalihin
3. Wara' al-Muttaqin
4. Wara' al-Shiddiqin

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Hamid Al Ghazali dalam Kitab Minhajul Al 'Abidin bahwa tujuan hidup mengenal hukum syara' dan hukum wara'. Niatnya adalah mewujudkan hamba Allah yang muwahhidun mukhallisun.

* Penulis adalah dosen UIN Walisongo & Wakil Ketua Kopisoda (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat)