::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Cita-cita Ajengan Basith Sebelum Meninggal

Sabtu, 18 Maret 2017 20:02 Daerah

Bagikan

Ini Cita-cita Ajengan Basith Sebelum Meninggal
Ajengan Basith (kanan) saat berziarah di Yordania
Jakarta, NU Online 
Menurut Sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi Muhammad Shidiq, ada ada cita-cita AJengan KH Abdul Basith bin KHR. Hidayatullah yang belum terlaksana sebelum meninggal, yaitu menyelesaikan sekretariat dan masjid PCNU di Jalan Cijalingan. Kantor tersebut sudah berdiri dan telah digunakan, tapi masih belum selesai dengan sempurna. 

“Kondisinya baru 70 persen, insyallah akan kita selesaikan,” katanya ketika dihubungi NU Online Sabtu (18/3). 



Sementara Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi Daden Sukendar mengatakan, Ajengan Basith mengamanatkan agar pengurus meramaikan sekretariat dengan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat.

Di antara yang sudah berjalan selama ini, kata Daden, adalah pengajian mingguan tiap Sabtu selepas shalat dzuhur. Ajengan Basith menjelaskan kitab Al-Hikam secara urut. 

“Biasanya almarhum menjadi salah satu pengasuhnya beserta ajengan lainnya. Beliau dalam menyampaikan materi pengajiannnya sangat kaya perspektif, tapi dapat menyampaikannya dengan sederhana sehingga mudah dicerna oleh para mualimin yang ikut pengajian,” ujar Direktur Lensa Sukabumi ini.                         

Kemudian, lanjut Daden, Ajengan Basith bercita-cita mewujudkan adanya klinik dan perguruan tinggi NU di Kabupaten Sukabumi.                                                

Menurut Daden, gerakan Ajengan Basith yang mengakar adalah zakat, infak dan sedekah. Gerakan yang dimulai dari desa almarhum, Nanggerang, Kecamatan Cicurug, diikuti desa-desa tetangga, bahkan kecamatan tetangga. Gerakan almarhum adalah iuran 500 rupiah sehari yang dilakukan seluruh warga bertahun-tahun. 


Di setiap kesempatan, lanjut Daden, almarhum Ajengan Basith selalu memotivasi untuk gemar bersedekah. Ia selalu menekankan, "Harta yang dimakan akan jadi kotoran, yang disimpan akan jadi rebutan, yang dizakatkan akan jadi penjaga harta dan penjaga diri. Yang di sedekahkan akan jadi penyubur harta dan penolong, sedangkan yang di infakkan akan jadi simpanan untuk bekal akherat".                        

“Beliau sangat low profile, bijaksana, dan tenang dalam menghadapi persoalan,” pungkas dosen STAI Al-Masthuriyah tersebut. (Abdullah Alawi)