Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali

Ahad, 09 April 2017 17:00 Fragmen

Bagikan

Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali
Salah satu faktor keberhasilan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa periode awal, khususnya Wali Songo, adalah kealiman. Namun, selain modal penguasaan ilmu keislaman yang mumpuni, mereka juga memiliki pemahaman dan kecakapan yang tinggi tentang aspek-aspek budaya, politik, dan ekonomi yang berlaku pada suatu masyarakat yang dihadapinya. Dengan penguasaan aspek-aspek itu semua, mereka bisa secara dinamis mengenalkan agama Islam lewat beragam cara yang dianggap tepat dan efektif, jadi tidak melulu menggunakan model ceramah saja, misalnya.

Salah satu dari strategi penyebaran Islam di Jawa oleh para Wali pada abad ke14-15 yang mengagumkan ialah mereka berusaha menguasai aspek-aspek yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat seperti mata air dan bahan-bahan makanan (yang dipadukan dengan pendekatan lainnya seperti mengakomodasi tradisi agama lama yang tidak bertentangan). Dewasa itu para Wali sudah menyadari bahwa dengan menguasai dua aspek itu yang kemudian manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, akan menjadi daya tarik tersendiri sehingga rakyat yang kala itu beragama Hindu tertarik untuk masuk Islam.

Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa kebutuhan pokok yang paling vital di masyarakat mana pun tak lain adalah bidang pangan dan air. Tidak kecuali di wilayah Majapahit waktu itu saat para Wali mulai melaksanakan misinya dalam menyebarkan agama Islam, soal pangan dan air pada masa menjelang runtuhnya Majapahit juga menjadi kebutuhan prioritas rakyat Majapahit.

Menurut Sejarahwan Agus Sunyoto dalam karyanya berjudul "Sunan Ampel Raja Surabaya", kebutuhan akan air di Jawa ternyata juga begitu penting sebab mereka yang telah menguasai air dapat dipandang sebagai 'telah melakukan penguasaan atas masyarakat seluruhnya', yang hal itu setidaknya telah dibuktikan dengan sejarah kelahiran kerajaan-kerajaan di Jawa sejak masa Airlangga membangun Kahuripan. Sementara pada masa kesuraman Majapahit yang disibukkan dengan kemelut sekitar suksesi setelah wafatnya Hayam wuruk, persoalan air yang menyangkut kebutuhan masyarakat malah terabaikan. Bendungan-bendungan dan irigasi terlantar tanpa perawatan dan sering menjadi pangkal penyebab perkelahian antar petani dalam pembagian air.

Dalam analisa Ketua Lesbumi NU ini, bahwa Kenyataan yang terkait dengan terabaikannya sektor pengairan di atas pada gilirannya lalu dilihat oleh para penyebar Islam dan dijadikan inspirasi perjuangan yang selaras dengan perjuangan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, tiap kali orang mendatangi tempat-tempat pemukiman penyebar Islam, baik di Ampel Denta, Giri kedhaton, Sendang, Drajat, Bonang, Demak, Kudus, Muria, hingga Gunung Jati, akan selalu menjumpai keberadaan sumber air yang dimanfaatkan masyarakat sekitar. Sehingga dengan menguasai sumber-sumber air, praktis masyarakat sekitar menjadi sangat tergantung.

Berikutnya tentang penguasaan bahan makanan. Agus Sunyoto menyebutkan bahwa pedagang-pedagang muslim yang sudah menghuni pesisir utara Jawa sejak abad ke-11 dalam koloni-koloni kecil, dengan terjadinya perubahan arus perdagangan akibat mundurnya kekuatan maritim Majapahit, menjadi semakin berkembang pengaruhnya. Bandar-bandar di utara pulau Jawa menjadi tempat penimbunan beras yang khususnya disediakan bagi keperluan para pedagang.

Proses penimbunan beras tempo itu pada dasarnya tidak bergeser dari pola tradisional, yakni para bangsawan setempat dan pegawai-pegawai keraton yang berwenang mengurusi penyerahan beras para petani di tanah pedalaman merupakan tengkulak tengkulak yang memonopoli sirkulasi beras dan bahan yang lain. Akibat monopoli para bangsawan dan para pegawai keraton ini, maka proses pemelaratan terhadap masyarakat petani makin meningkat. Sebagai akibatnya terjadi kesenjangan sosial yang sangat tajam dimana para bangsawan dan pegawai keraton yang korup makin kaya, sementara rakyat di pedesaan makin melarat.

Dalam keadaan yang demikian itu, kelas pedagang muslim sebagai kelas menengah mendadak menjadi tumpuan harapan bagi rakyat miskin yang tertindas. Ajaran Islam yang bersifat sosial seperti infaq, shodaqoh, dan zakat, dalam tempo singkat menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penduduk yang miskin akibat sustem sosial dan perang yang tak kunjung usai.

Dengan demikian para penyebar Islam abad ke-14 dan ke-15 terutama Wali Songo telah menempatkan diri sebagai penolong bagi masyarakat miskin karena telah menguasai kebutuhan pokok manusia yaitu air dan bahan makanan. Maka tidak mengherankan bila cara dakwah partisipatif seperti itu membuahkan hasil berupa berbondong-bondongnya masyarakat dalam memeluk Islam yang semula beragama Hindu. (M Haromain)