::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya

Senin, 08 Mei 2017 17:00 Hikmah

Bagikan

Kisah Penjahat Pemabuk yang Mulia di Akhir Hidupnya

Kitab Irsyâdul ‘Ibâd karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malybari dalam sebuah bab mengisahkan tentang seorang lelaki durjana yang meski mengalami nasib tragis di akhir hidupnya. Kegemarannya membuat kerusakan dan minum minuman keras membuatnya dibenci masyarakat sekelilingnya. Bahkan, ketika ia mati di daerah Basrah, tak satu pun orang mau mengurus jenazahnya, kecuali sang istri.

Detik-detik pemakaman dilewati secara dramatis. Sang istri terpaksa membayar beberapa orang untuk mengangkut jasad suaminya menuju mushala. Karena tidak ada orang yang mau menshalatkan, jenazah lantas digotong kembali ke padang sahara untuk dimakamkan di sana.

Dalam kondisi yang malang ini, tiba-tiba seorang yang terkenal zuhud datang menghampiri. Ia turun dari gunung tempatnya ibadah guna menshalatkan jenazah lelaki fasik tersebut. Kealiman dan kesalehan sang zahid cukup harum di mata masyarakat, karenanya begitu tersiar kabar ia menshalati jasad penjahat tersebut, berbondong-bondonglah orang datang ke gurun. Masyarakat heran, mau-maunya orang ahli ibadah itu menuruni gunung, lalu menghormati mayat orang yang bergelimang dosa.

“Aku bermimpi seolah-olah ada suara yang mengatakan ‘Turunlah dari gunung, pergilah ke salah satu jenazah yang tak ada orang lain menemani kecuali istrinya sendiri. Lakukan shalat untuknya karena sesungguhnya ia diampuni,” kata sang zahid.

Sang zahid pun memanggil istri lelaki jahat itu dan bertanya tentang perbuatan suaminya semasa hidup. “Dia sering ke kedai untuk minum minuman keras,” jawab sang istri.

“Ingat-ingatlah kembali, barangkali ada perbuatan yang baik.”

“Tak ada perbuatan yang baik kecuali dia tiap hari sadar di waktu subuh, mengganti pakaiannya, berwudhu, lalu menunaikan sembahyang subuh. Selanjutnya ia kembali ke kedai untuk mabuk lagi.”

Kebaikan lainnya adalah di rumah orang yang dikenal buruk itu tak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim yang selalu mendapat prioritas ketimbang anaknya sendiri. Ketika sadar (tak mabuk), dia bermunajat seolah mengakui segela kesalahannya, “Tuhan, di sudut manakah Engkau akan menempatkanku yang buruk ini di neraka jahannam?”

Kisah ini membuka mata kita bahwa menilai seseorang tak semudah hanya dengan cara melihat pribadi lahiriahnya. Orang yang sehari-hari tampak berbuat maksiat, bisa jadi mulia di akhir hidupnya lantaran pertobatan dan kebaikan yang dilakukannya. Keselamatan hakiki orang mutlak menjadi hak prerogative Allah. Karena itu, ketimbang memvonis orang lain dengan label hitam atau putih, alangkah baiknya energi itu dicurahkan untuk mengoreksi diri sendiri.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malybari ketika menceritakan hal ini juga hendak menyampaikan pesan bahwa kepedulian anak yatim adalah perbuatan yang utama. Sikap tersebut mencerminkan keberpihakan kepada hamba lain yang lemah, dan bisa jadi keistimewannya melebihi ibadah-ibadah ritual yang dilakukan dengan penuh kebanggaan dan sikap meremehkan orang lainnya.

Rasulullah pernah bersabda,orang yang berusaha membantu janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan seperti orang yang menjalankan shalat malam (Mahbib)