::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjemput Cahya Paduka

Sabtu, 13 Mei 2017 13:15 Cerpen

Bagikan

Menjemput Cahya Paduka
Ilustrasi: Melody From The Sky (afremov.com)
Oleh: Sofiyatun Nisa

Aku berjalan di kegelapan. Tingkahku seperti hewan. Lakuku seperti setan. Laiknya aku bukan manusia. Tiba-tiba, aku didatangi sesosok makhluk, apakah itu malaikat pencabut? Pencabut nyawakah?

Sesosok malaikat mengajakku ke taman ‘Adn. Ia memberiku sebuah syarat “Lakukanlah yang diperintahkan paduka dan tinggalkanlah yang dilarangnya”. Simple. Hanya dua permintaan. Kata batinku. 

Lingkungan di sekitar taman tampak aneh bagiku. Aku mencium aroma wangi yang sangat. Banyak orang berpakaian putih-putih, mereka mengangkat ke dua tangannya sejajar dengan daun telinga. Disedekapkanlah di atas perutnya. Menunduk. Mencium tanah. 

“Sedang apa mereka?”

“Sujud” 

“Itukah permintaanmu paduka?” Lagi batinku berkata.

Kami terus berjalan menyusuri taman. Malaikat mengajakku memasuki sebuah gedung yang berada di depan taman. Sebuah istana. Aku melihat lukisan-lukisan abstrak yang terpasang di dinding-dinding istana yang berbalutkan emas dan ornamen-ornamen dari kain sutera dan berbagai jenis batu permata juga turut menghiasi interior istana. Aroma wangi masih menemaniku. 

Lukisan abstrak yang pertama ku lihat hanya corat-coretan kuas dengan berbagai gradasi warna. Ku amat-amati warnanya merupakan warna polikromatis, warna orange bercampur putih, dan ada juga goresan kuas dengan warna monokromatis, warna kuning campur putih dan warna  biru dicampur dengan warna hitam. Adapun background lukisan berwarna merah tua. 

Lamat-lamat saat ku lihat goresan warna orange, aku seperti dibawa ke alamnya. Alam lukisan itu.

“Kau sedang mengawasiku?” kata lukisan itu berbicara padaku.

“Hah” aku bermuka bego. 

“Kemarilah nak!”

Dia adalah pemabuk. Hobinya minum arak yang selalu beriak di mulutnya. Dia tidak patuh pada paduka. Suara paduka, dia abaikan. Firman-firmannya pun dia lupakan. Putus cinta dengan kekasihnya menjadi alasan. Kemiskinan datang di kehidupannya menjadi pelarian. Di PHK dari pekerjaan menjadi sarang frustasi terambang oleh kebuntuan. Jadilah arak itu teman kebahagiaan dan kesenangan.

Aku masih bermuka bego. Sejurus kemudian, masih dengan kebegoanku aku masih penasaran dengan lukisan ini. Aku mengamati segaris coretan warna kuning yang menjulang ke atas dan bersebaran di titik-titik kanan kiri atas bawah. 

Sreeeeeeeeeeeet 

Lukisan itu kembali membawaku. Mencomot tubuhku untuk masuk ke dalamnya. Hai nak, lihatlah!.

“Siapa dia?”

“Lihatlah dengan sekasama nak!” 

Dia adalah penjahat. Kriminal. Kau tahu, apa yang dia lakukan nak? Karena putus cinta dia berani membunuh mantan kekasihnya. Karena kekurangan harta dia berani merampas harta yang bukan haknya. Karena kursi kebanggaannya dia berani menindas si jelata. 

Dia melupakan paduka yang Maha segala. Janganlah kau miliki sifat sombong nak, tak pantas. Sungguh tak pantas.   

Aku kembali mengamati warna lain pada lukisan itu. Peristiwa yang sama yang intinya itu semua menggambarkan jiwa-jiwa hewani yang merajalela yang ada pada diri khalifah dunia. Penghuni bumi yang semena-mena. 

Selang beberapa waktu berlalu, lukisan itu menyeretku ke sisi lain. Melanjutkan ceritanya. 

“Hai nak!. Kau masih setia mengawasiku.” Sapa lukisan itu padaku. Dengarlah nak: akan kuceritakan satu kisah dari orang-orang yang telah kau lihat tadi. 

Saat tubuhnya melayang-layang serasa bumi beputar-putar. Dia jalan sempoyongan. Gabruk!. Tubuhnya jatuh di antara sampah-sampah yang menggunung dan bertumpukan. Namanya orang mabuk, jatuh di tumpukan sampah dia pikir kasur empuk tempatnya tidur. Dia samar-samar melihat nama paduka di tumpukan sampah tadi. Tangannya mengambil kertas bertulis nama paduka raja. Dia simpan di saku bajunya sembari berjalan ke rumah. Setelah sampai di rumah, dia meletakkan nama paduka di lemari pakaiannya. Dibersihkanlah kotoran yang menempel di kertas itu. Dia menciuminya. Lalu, dia letakkan di papan paling atas. 

“Nak, kau tahu apa yang terjadi?”.  

Aku menggelengkan kepala tanda tak mengerti.

Aku yakin kau menilai pemabuk itu seperti hewan dan setan. Bentuk makhluk yang tak bermoral. Kau boleh lihat dari sisi yang konkretnya bahwa dia memang pemabuk namun dia tak lagi miliki jiwa hewan dan juga setan nak. Dia mendapatkan rahiim dari paduka sang maha Ghaffar. Hanya karena menyelamatkan namanya dari tumpukan sampah. 

Pada saat kondisinya mulai setengah sadar dan kemudian menjadi sadar, di pembaringannya dia menyebut-nyebut nama paduka. “Wahai paduka raja, betapa diri ini bodoh sekali. Aku mencintaimu. Tiada daya dan upaya kecuali dari dirimu wahai paduka,” rintihan dari dirinya. 
Nak, padukamu sungguhlah Maha segala. Saat kau mencintaiNya, ia akan mencintaimu. Ia akan menebarkan menyebarkan menghamparkan rahman rahimNya untukmu. Percayalah nak. Kau tak akan merasakan sakitnya hati. Hatimu akan damai. 

Nak, kau telah menyaksikan sendiri si pemabuk yang berhasil menjemput cahyaNya. Paduka telah membelainya dengan penuh kasih sayang. Paduka tak murka, nak. Laksanakanlah dua permintaan paduka.  “Lakukanlah yang diperintahkan dan Tinggalkanlah yang dilarang”.

Nak, qoul Imam Ghozali nan benar sekali. “Dunia itu layaknya sebuah pasar yang disinggahi para musafir (pejalan). Dalam perjalanannya tentu mereka mencari bekal hingga dapat sampai ke tujuan”. Seperti itulah ibaratnya. Dunia menjadi tempat untuk menabung untuk esok kembali ke akhirat. Tinggal musafirnya yang memilih menabung kebaikan atau menabung kejelekan.   

Aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh aku hanyalah pemilik jiwa hewani. Jalan yang ku tempuh dalam kegelapan. Izinkanlah aku menjemput cahyaMu, paduka raja. Jiwaku hanyalah seperti lampu. Jika saja aliran listriknya terputus, lampu itu akan mati. Lampu itu adalah hatiku. Jika saja aku tak men-dzikirkan namaMu sungguhlah hatiku sungguh mati.

Aku terbangun dengan wajah yang berembun. Aku menatap pada jam dinding. Jarum pendeknya tertuju pada angka tiga dan jarum panjangnya tertuju pada angka 12. Dengan sesenggukan ku ucap: “Wahai paduka ya Ghaffar, izinkanlah aku menjemput cahyaMu di malam nishfu sya’ban yang amat mulia ini.” 

Tingkahku seperti hewan. Lakuku seperti setan. Wahai paduka yang maha lathif, gantikanlah dengan tingkah dan laku bak malaikat yang senantiasa selalu beriman. 

Di mana malaikat tadi? Tidak jadikah mengambilku? Aku masih tersedu-sedu. 


Penulis adalah Mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta, anggota PMII Komisariat Kentingan.