::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Surat Cinta dari Palestina

Ahad, 30 Juli 2017 09:03 Puisi

Bagikan

Surat Cinta dari Palestina
Oleh HM. Nasruddin Anshoriy Ch 

Sepucuk surat cinta ini jatuh dari langit di tengah malam 
Melayang dalam desau angin dan tetes embun
Mengirimkan prahara rindu segala rindu

Dan surat cinta itu kini telah sampai di pintu kalbuku

Wahai Jibril, bicaralah!

Berkisah tentang resah
Risau langit mengucap gundah

Dalam dengung berjuta lebah
Orkestra cinta mencatat luka
Sepucuk duri menyengat tidur malamku 

Malam ini gerimis linggis jatuh di depan Gua Hira
Menggali jutaan mata air cahaya dalam dahaga jiwa
Memuncratkan gemuruh takbir di cakrawala 
Palestina mencatat luka dalam rintih tadarusku

Kubaca surat cintamu dengan suara terbata-bata 
Dengan mata berkaca-kaca 

Makrifat Alif di jaring laba-laba
Menjerat anak panah rindu dalam batinku

Palestina adalah perih yang purba
Menyelinap dalam dekap 
Pada nikmat dan sekarat yang berhulu di samudera biru

Menjadi prasasti dan luka di dalam dada
Pada album Al-Amin yang bermukim di rumah semesta 
Surga masa depanku 

Jejak siapa yang memerah di sini
Makrifat hijrah yang bergerak dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa
Terpahat indah pada bening keningku

Siapa yang masih tega berdusta
Saat sejarah bermandi darah berkafan marwah
Saat racun dan tuba mengalir di kota tua
Palestina mencatat segalanya

Kutemukan jutaan lebah dalam kemah hijrahku
Aku tersengat ribuan jarum berkah
Hakikat jihad dalam kamus tauhidku

Aku meronta di jaring laba-laba 
Gerimis makrifat membasahi bening kalbu
Menjadi anggur iman dalam cawan suciku

Kutenggak arak dan madu dari cangkir takbirku
Mata air airmata siapa ini
Yang mengalir dari puncak Jabal Nur
Bercipratan di Jabal Rahmah
Merayakan kehadiran Al-Amin dalam denyut jantungku?

Palestina mencatat segalanya 

Saat mawar langit membuka kelopaknya
Ketika ribuan bintang jatuh menaburkan permata
Akulah rindu segala rindu

Di Gerbang Sidratil Muntaha kuseruput anggur cinta dari cangkir cahaya 
Lidahku memancarkan sinar cinta di puncak Tursina

Mihrab siapa ini? Kubah emas yang menjadi saksi luka lamaku

Tuhanku 
Pada cawan suciMu kurayakan mabuk ini
Kutenggak bergelas-gelas madu di haribaan Raudlah yang memeluk mesra jiwaku 

Demi cinta kucumbui syair-syair zikirku
Demi rindu kurenda getar gurindam dalam tasbihku

Palestina adalah seloka keluh-kesahku
Palestina adalah gurindam kasih-sayangku
Palestina adalah syair getir langkah hijrahku

Wahai Jibril, bicaralah!

(Embun Palestina, 2017 )