::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cinta Mbah Raji kepada Masjid

Jumat, 04 Agustus 2017 16:00 Hikmah

Bagikan

Cinta Mbah Raji kepada Masjid
Ilustrasi (Antara)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak pada Hari Kiamat ada tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Di antara ketujuh golongan itu adalah seseorang  yang hatinya senantiasa bergantung di masjid (rajulum qalbuhu mu’allaqun bil masâjid).

Berbicara tentang seseorang yang hatinya senantiasa tertambat di masjid, Mbah Raji adalah salah satu contohnya. Dalam usianya yang sudah cukup udzur, beliau masih sanggup berjalan sendiri menuju masjid untuk berjamaah shalat lima waktu. Meski jarak rumah beliau dengan tempat suci itu hanya kira-kira 40 meter, beliau membutuhkan istirahat 3 hingga 5 kali untuk sampai ke sana. Maklum usia Mbah Raji telah mencapai 85 tahun.

Di usia ini warna putih banyak mendominasi fisik beliau. Misalnya, setiap hari Jumat beliau selalu mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga kaki. Kopiah beliau putih seputih rambutnya. Baju beliau putih seputih alis dan bulu matanya. Serban beliau putih seputih kumisnya. Sarung beliau putih seputih jenggotnya. Kulit beliau putih seputih cintanya kepada masjid. Mbah Raji memang sudah sepuh sehingga untuk kegiatan ringan saja seperti berjalan ke masjid dan kembali ke rumah membutuhkan banyak istirahat.

Setiap kali beristirahat dalam perjalanannya ke masjid dan pulang ke rumah, Mbah Raji hanya berdiri tegak bersendirian terengah-engah dengan bertumpu pada tongkat kayu di tangan kanannya. Beliau tak pernah meminta tolong siapa pun untuk menopang tubuhnya yang sudah bungkuk dan berjalan tertatih-tatih. Mbah Raji tak mau merepotkan siapa saja dalam ibadahnya kepada Allah SWT. Cintanya kepada masjid dan kepasrahan dirinya kepada Sang Khaliq telah memberinya kekuatan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa beliau masih mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Kemandirian Mbah Raji dengan hanya bersandar kepada Allah, semakin tampak jelas ketika beliau merangkak menaiki ondhak-ondhakan (tangga) masjid dan terus merangkak hingga ke tempat kosong di dalam masjid yang dipilihnya untuk bersujud kepada-Nya. Mbah Raji tak mungkin membawa serta tongkatnya ke dalam masjid karena menyadari barang tersebut belum tentu suci dari najis terutama di bagian dasar.  

Oleh karena itu merangkak menuju tempat bersujud di dalam masjid adalah pilihan terbaik bagi Mbah Raji yang sangat disadarinya. Inilah salah satu ungkapan cinta Mbah Raji kepada masjid yang banyak orang menjadi saksi. Dalam keadaan sesulit ini, Mbah Raji tidak memperlihatkan tanda-tanda meminta tolong orang lain untuk memapahnya ke tempat sujud yang diinginkan. Beliau merasa cukup dengan pertolongan dari Allah SWT berupa kesehatan dan kekuatan fisik yang masih tersisa hingga beliau wafat pada hari Rabu, 17 Februari 2016. Inna lillahi wainna ilahi rajiun.

Selamat Jalan Mbah H. Imam Suraji!


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta