::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

FKDT Tubaba: Mendikbud Sebaiknya Fokus Masalah yang Lebih Krusial

Sabtu, 12 Agustus 2017 08:15 Daerah

Bagikan

FKDT Tubaba: Mendikbud Sebaiknya Fokus Masalah yang Lebih Krusial
Ilustrasi (tzuchi.or.id)
Tulang Bawang Barat, NU Online
Ketua Dewan Pengurus Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Tulang Bawang Barat Abdullah Nasir menegaskan sekolah lima hari akan berpotensi mengakibatkan pendangkalan pendidikan agama, internalisasi akhlakul karimah, dan nilai-nilai kebangsaan.

"Kami mendesak kepada Mendikbud agar membatalkan rencana itu karena akan membuat madrasah diniyah dan taman pendidikan al-quran (TPA) terancam gulung tikar," kata Abdullah Nasir di Pondok Pesantren Darurrohman Mulyakencana, Jumat (11/8).

Kebijakan itu, menurut dia perlu dikaji ulang secara komprehensif, agar eksistensi madrasah diniyah, TPA/TPQ tetap berlanjut. Selama ini, masyarakat dengan pemerintah sudah berbagi peran dengan baik dalam hal waktu belajar. TPA mengambil waktu siang-malam hari sementara pendidkan formal di sekolah dan madrasah di pagi hingga siang hari.

Naser meminta Mendikbud untuk konsen menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial seperti, masih terdapat disparitas pendidikan antara sekolah negeri dengan swasta, antara sekolah unggulan dan reguler.

"Sebaiknya konsen Mendikbud pada profesionalitas guru yang belum sesuai harapan masyarakat. Selain itu nasib pendidikan di daerah tertinggal diperhatikan, misalnya gedung sekolah yang belum permanen harus diperbaiki, anak putus sekolah dan adanya SD yang harus digabungkan (merger) dengan SD lainnya karena kekurangan peserta didik, itu harus diprioritaskan," pungkasnya.

Saat ini, DPC FKDT Tulang Bawang Barat membawahi 8 Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) yang secara kontinu menjadi jembatan antara madrasah diniyah dengan pemerintah daerah.

"Berkurangnya waktu kegiatan belajar mengajar(KBM) pada madrasah Diniyah, TPA/TPQ dan Pesantren akibat kebijakan FDS, akan mengakibatkan penyelenggaraan pendidikan luar sekolah kurang optimal.

Naser khawatir, TPA/TPQ dan pondok pesantren yang selama ini menjadi benteng Islam moderat dan nasionalisme ini hancur, maka kita akan kehilangan investasi kebangsaan. Naser menegaskan, agar jangan sampai kebijakan full day school malah akan mematikan sesuatu yang telah lama kita miliki dan berjasa besar pada pengembangan karakter, akhlakul karimah.(Gati Susanto/Imam Mukafi/Mahbib).