::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Gus Mus Tolak Full Day School dengan Full Day Sarungan

Senin, 21 Agustus 2017 05:01 Pesantren

Bagikan

Santri Gus Mus Tolak Full Day School dengan Full Day Sarungan
Rembang, NU Online
Santri dari Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang menyampaikan pesan menolak Full Day School (FDS) yang diberlakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Mereka menyampaikan hal itu saat menjadi peserta karnaval Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang digelar Pemerintah Kabupaten Rembang pada Ahad pagi (20/8). 

Ratusan santri pondok pesantren yang diasuh Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) itu berjalan kaki dan mengkapanyekan full day sarungan, sebagai dukungan keberlangsungan aktivitas pesantren.

Menurut koordinator santri Leteh, Muhammad Ali Musthofa, keikutsertaan santri pada karnaval itu, sebagai salah satu wujud nyata jiwa patriotisme yang ditanamkan di dalam pondok pesantren.

"Semua itu untuk memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-72, sebagaimana yang diajarkan di dalam pondok pesantren," jelas Ali.

Sementara, soal full day sarungan, menurut dia, sebagai aspirasi para santri untuk menolak Peraturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur tentang jam belajar siswa sekolah, yaitu 8 jam setiap hari. Kebijakan itu dinilaiancaman keberlangsungan pembelajaran sekolah nonformal, seperti madrasah dan pesantren.

Menurut Ali, pondok pesantren mempunyai andil tak kalah penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa. Jika kebijakan tersebut diterapkan di Indonesia, akan sangat merugikan generasi muda. 

Para santri Gus Mus itu juga menampilkan drama kolosal singkat dengan mengusung tema “Perjuangan Pahlawan dalam Merebut Kemerdekaan” yang dipertontonkan di hadapan para pejabat daerah.

Sayangnya, hal itu urung dilakukan, karena tidak diberikan kesempatan oleh anggota polisi yang kebetulan berada di area depan panggung kehormatan para pejabat. Santri pun merasa kecewa, karena tidak diberikan waktu seperti para peserta yang lain.

"Bagaimana ya, kalau kecewa sih kecewa, cuma yang bagaimana lagi, inilah nasib santri," kata salah satu santri yang menjadi bagian kolosal. (Ahmad Asmui/Abdullah Alawi )