::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Inikah Mentor Kiai Wahab Chasbullah dalam Berorganisasi?

Senin, 18 September 2017 00:02 Nasional

Bagikan

Inikah Mentor Kiai Wahab Chasbullah dalam Berorganisasi?
Tangerang Selatan, NU Online
Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya'ban menduga KH Soleh Lateng sebagai guru KH Abdul Wahab Chasbullah dalam hal berorganisasi. Hal itu didasarkan pada saat akan mengikuti sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di mana Kiai Wahab sowan kepada Kiai Soleh.

“Saya beranggapan bisa jadi KH Soleh Lateng adalah mentor Kiai Wahab dalam bidang organisasi awal-awal NU," kata Ginanjar ketika menyampaikan materi tentang KH Soleh Lateng di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Tangerang Selatan, Sabtu (16/9).

Lebih jauh, ia bercerita tentang pengalamannya ketika membuka lemari yang berisikan kitab dan manuskrip peninggalan Kiai Soleh Lateng di Banyuwangi. Baginya, lemari itu merupakan harta karun khazanah keilmuan ulama Nusantara.

"Ketika lemari itu terbuka seperti menemukan harta karun," kata Ketua Pusat Studi Islam Nusantara STAINU Jakarta itu.

Ia mengaku kaget dengan isi dari lemari tersebut. Ada banyak kitab dengan genre yang bermacam-macam, yaitu kitab tentang ilmu-ilmu keislaman seperti fikih hingga kitab tentang tatanegara dan politik. Bahkan, kitab-kitab tentang filsafat dan kedoteran karya Ibnu Sina.

“Artinya bacaan beliau itu lintas disiplin ilmu,” ucapnya.

Alumnus Pesantren Lirboyo itu tidak bisa membawa manuskrip dan kitab-kitab tersebut karena itu memang bukan haknya. Maka dari itu, ia berpesan kepada Komunitas Pegon dan PCNU Banyuwangi untuk mendigitalisasi kitab-kitab tersebut agar mudah diakses oleh santri-santri yang ingin mengkajinya.

“(Kitab-kitab tersebut) agar bisa didigitalisasikan sehingga menjadi sumber berharga khazanah keilmuan ulama Nusantara,” katanya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)