::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan

Sabtu, 30 September 2017 04:04 Hikmah

Bagikan

Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan
Beberapa referensi utama di bidang sirah memberikan kesaksian, saat Umar menjabat sebagai khalifah, rakyatnya kerap kali melihat dirinya tengah membawa sejinjing air di atas pundaknya, juga sekarung tepung dan gandum, sekantung minyak, beberapa sha’ kurma, untuk ia sampaikan ke rumah janda-janda dan anak-anak yatim. Dan Umar melakukan itu sendirian, seorang diri saja.

Sahabat Umar benar-benar melihat jabatan yang tengah diembannya sebagai amanat dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Umar sadar betul, jika jabatan kenegaraan yang tengah ia sandang adalah sebuah amanat yang besar, sangat besar. Tak lebih. 

Karena itulah, tidak mengherankan jika Umar sepenuh hati melayani umatnya, sepenuh jiwa mengabdi kepada rakyat yang tengah dipimpin dan diurusnya. Dan bagi sahabat Umar, tidak ada bekal terbaik bagi seorang manusia, dalam keadaan apapun ia, saat ia menjadi khalifah atau pun menjadi kaisar, kecuali takwa. Karena tentu hanya ketakwaan bekal utama perjalanan hidup manusia untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Umar adalah sosok teladan dan gambaran bagi para pemimpin negara, dan bagi pemimpin apapun. Dalam dirinya terdapat sebuah perpaduan yang benar-benar langka. Umar adalah seorang sosok negarawan, politikus, cendikiawan, filsuf, panglima perang, ulama, sekaligus sosok yang takwa dan taat kepada Rabb-nya. 

Melihat Umar, seseorang sejatinya digambarkan secara nyata tentang tipikal ideal kepemimpinan yang sepatutnya dijadikan salah satu barometer utama, selain tentu kepemimpinan sang manusia agung, Nabi Muhammad SAW.

Atas kesinambungan ideal Umar ini, Montesquieu, negarawan Prancis yang juga inspirator gerakan Renaissance di Prancis dan Eropa dalam sebuah literatur banyak memuji tipikal kepemimpinan Umar serta penguasa-penguasa dan ulama Islam lainnya. Dikatakan Montesquieu tentang Umar dalam Bahasa Prancis:

Je suis un fou de Omar, jusqu'à ce que, j'ai décidé de faire, un site pour lui, j'aimerai tant partager, avec vous, des conaisance, et tout ce, qu'on peut trouve(r) sur Omar.

“Saya adalah orang yang menggilai Omar (Umar), sampai saya memutuskan untuk membuat sebuah situs untuknya, saya sangat ingin berbagi dengan Anda, tentang pencerahan dan semua yang bisa ditemukan pada Omar.” (Fathoni)

Diolah dari berbagai sumber.