::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah

Senin, 09 Oktober 2017 09:03 Ubudiyah

Bagikan

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah
Ketenangan batin memang tidak pandang warna kulit atau kelas sosial. Ia bisa saja dialami oleh mereka yang kaya atau miskin, orang desa atau orang kota, orang tua maupun muda. Ketenangan batin ini dialami oleh mereka yang tidak memiliki keinginan apapun sehingga jiwanya merdeka bebas dari belenggu keinginan dan ambisi tersebut sebagai disebut Syekh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

أنت حر مما أنت عنه آيس وعبد لما أنت له طامع

Artinya, “Kau bebas merdeka dari sesuatu yang kauputus asa. Tetapi kau menghamba pada sesuatu yang kauharapkan.”

Bagi mereka yang sedang menempuh jalan menuju Allah, keinginan yang diawali dengan menaruh harapan kepada sesuatu merupakan bahaya besar. Harapan atas sesuatu menyandera batin mereka sehingga mereka hanya terpaku pada keinginannya seperti disinggung Syekh Zarruq berikut ini.

قلت: لأن ما أنت له طامع آخذ بقلبك فأنت له بكلك، وما أنت عنه آيس أنت عنه معرض بقلبك فليس له شىء من وجودك...قال فى التنوير وتفقد وجود الورع من نفسك أكثر مما تتفقد سواه، وتطهر من الطمع فى الخلق، فلو تطهر الطامع فيهم بسبعة أبحر ما طهره إلا اليأس منهم ورفع الهمة عنهم. ثم ذكر حكاية على كرم الله وجهه وقول الحسن له: فساد الدين الطمع وصلاح الدين الورع.

Artinya, “Buat saya, hal itu terjadi karena sesuatu yang kauharapkan itu memenjara hatimu sehingga kau mengabdi sepenuhnya untuk itu. Tetapi terhadap sesuatu yang kauputus asa, hatimu tentu berpaling sehingga tak satupun organmu melekat padanya.

Syekh Ibnu Athaillah berkata di kitab At-Tanwir, ‘Temukanlah kewara‘an pada dirimu melebihi apapun pencarianmu selain wara‘. Sucikan dirimu dari harap kepada makhluk (thama‘). Kalau saja orang yang menaruh harapan kepada makhluk mencoba bersuci di tujuh laut, niscaya hal itu percuma kecuali kalau ia menanggalkan harapnya dari makhluk dan mengangkat orientasinya jauh dari mereka.’

Syekh Ibnu Athaillah juga mengutip pernyataan Sayyidina Ali RA dan Al-Hasan Al-Bashri, ‘Sebab kerusakan agama seseorang adalah thama‘ (harap kepada makhluk). Sebab kesalehan agama seseorang adalah wara‘,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 70).

Lebih jauh Syekh Ibnu Abbad menjelaskan bahwa menaruh harapan dapat dipahami sebagai sebuah cinta dan keinginan kuat untuk mewujudkannya. Ini yang dihindari kalangan sufi. Mereka lebih memilih wara‘. Mereka tidak mengejar kekayaan karena memang tidak ingin kekayaan. Mereka hanya bermuamalah sewajarnya menurut tuntunan syari tanpa mengorbankan dan merugikan orang lain.

Kalangan sufi juga tidak mengejar kekuasaan apalagi dengan cara-cara kotor. Mereka hidup seperti biasa. Diberi amanah kekuasaan, alhamdulillah. Kalau sudah berkuasa, juga tidak berusaha melanggengkan kuasanya. Kalau pun harus turun di tengah jalan seperti Gus Dur (Allah yarhamuh), ya tinggal turun. Kalau pun tidak berkuasa, tidak lantas frustasi lalu anarki mengganggu ketertiban umum. Mereka orang-orang merdeka dari segala kaitan duniawi.

الطمع في الشىء دليل على الحب له وفرط الاحتياج الى نيله وذلك عبودية له كما أن اليأس من الشىء دليل على فراغ القلب منه وغناه عنه وذلك حرية منه فالطامع عبد واليائس حر

Artinya, “Menaruh harapan kepada sesuatu adalah tanda mencintainya dan tanda sangat berhajat untuk menggapainya. Sampai sini seseorang sudah menghamba kepadanya. Demikian halnya putus asa atas sesuatu adalah tanda kekosongan hati dan kekayaan hati darinya. Sampai sini orang merdeka darinya. Orang yang berharap itu hamba. Mereka yang putus asa itu adalah orang merdeka,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Makatabah Al-Munawwir, juz I, halaman 49).

Hikmah Ibnu Athaillah ini jangan disalahpahami sebagai upaya melemahkan semangat untuk berprestasi dan mengejar capaian-capaian tertentu. Hikmah ini merupakan peringatan bagi mereka yang menghamba kepada selain Allah seperti kekayaan, kekuasaan, jabatan, pencitraan, dan lain sebagainya.

Hikmah ini peringatan bagi mereka yang menganggap selain Allah segalanya dalam hidup sehingga harus dikejar meski dengan jalan kotor dan jalan merugikan banyak orang. Hikmah ini mengingatkan mereka yang tersandera keinginan lalu menghambakan diri pada keinginan dan harapannya sehingga mereka dipermainkan oleh keinginannya sendiri. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)