::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gerebeg Santri Yoyga, Ada Gunungan Hingga Fatayat Tempo Doeloe

Senin, 30 Oktober 2017 08:00 Daerah

Bagikan

Gerebeg Santri Yoyga, Ada Gunungan Hingga Fatayat Tempo Doeloe
Yogyakarta, NU Online
Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta diisi dengan kirab Gerebeg Santri, Ahad (29/10). 

Sedikitnya 34 kafilah (rombongan) peserta kirab yang dilaksanakan di sepanjang Jalan Malioboro dengan mengambil start di Gedung DPRD DIY dan finish di Alun-alun Utara (Altar). 

Peserta kirab terdiri perwakilan pesantren yang ada di DIY, seperti Al Munnawir dan Ali Maksum, Al Imdad, Nurul Iman, Nurul Haromain, As Salafiyah, Aswaja Nusantara, Nurul Iman Mlangi, Sunni Darussalamn, Anwar Futuhiyah, Sunan Pandanaran, Darul Quran, Darul Muslihin, dan Al Mumtaz. 

Selain itu, terdapat juga perwakilan dari elemen organisasi di bawah NU, seperti Muslimat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, Pagar Nusa, LP Maarif.

Pada momentum tersebut Banser  menampilkan Drum Band. Sedangkan Fatayat mengusung tema Fatayat Tempo Doeloe. Para  pemudi NU ini mengenakam kebaya dan kerudung layaknya anak mudi NU pada masa dahulu.

Peserta Kirab lebih dulu menampilkan aksi di depan para tamu undangan dan para kiai di depan Gedung DPRD. Setelah itu, mereka menyusuri jalan Malioboro hingga di Alun-alun Utara. Tak ayal ribua orang termasuk masyarakat umum memadati sepanjang Jalan Malioboro hingga Alun-alun Utara turut menjadi saksi aksi para peserta.

Setelah sampai di Altar, peserta berkumpul sambil menyimak penampila dari perwakilan santri. Pesantren Darul Quran dari Gunungkidul dinobatkan menjadi penampil terbaik. Mengusung tema teatrikal dan membawa gunungan, ponpes ini meraih poin terbanyak. Peringkat kedua diduduki Sunan Pandanaran dengan tema Paskibraka. Sedang posisi ketiga ditempati kafilah Al Imdad dengan tema pasukan semut ireng. 

Perwakilan PWNU Fahmi Akbar Idris menyampaikan acara garebeg santri ini menjadi tonggak perpaduan antara budaya santri dengan Mataram Ngayogyakarta. 

"Gerebeg adanya hanya di tradisi Mataram dan Garebeg Santri ini adanya hanya ada di Yogjakarta,” katanya. 

Ditambahkan kegiatan ini akan menjadi agenda rutin PWNU DIY. Dan akan digelar setiap peringatan hari santri. 

"Tahun ini peserta yang ikut hanya sekitar tiga ribu orang. Tahun depan kita usahakan menjadi 5 sampai 10 ribu," tambahnya.  

Ketua Panitia, KH Muhammad Labib menambahkan selain kirab, puncak HSN DIY juga diwarnai dengan pengibaran bendera di Puncak Merapi. Bendera yang dikibarkan yakni Merah Putih, Nahdlatul Ulama, dan Ayo Mondok. 

Ada sekitar 60 orang santri pecinta alam yang akan ikut dalam pengibaran bendera ini.

"Dijadwalkan pengibaran bendera dilakukan pagi hari pas terbitnya matahari dengan terlebih dulu dilakukan upacara bendera," teranganya.

Rangkaian acara HSN DIY dimulai sejak awal Oktober lalu. Beberapa kegiatan yang sudah digelar antara lain Sarasehan Santripreuneur di PP Al Mumtaz, Seminar Kebangsaan di PP Al  Munnawir Krayak dan Cerdas Cermat Aswaja (CCA) di Universitas Nahdlatul Ulama serta Turnamen Futsal antar Santri yang digelar di Piramid Futsal. 

Selain di tingkat PW DIY, peringatan HSN juga digelar oleh pengurus NU di Kabupaten dan Kota. Kegiatan meliputi upacara bendera, kirab, expo santri, lomba melukis untuk siswa PAUD dan TK, serta lomba fashion show dan paduan suara untuk ibu-ibu Muslimat. (Sukron Muttaqien/Kendi Setiawan)