::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mbah Ngis dan Kepatuhannya kepada Kedua Orang Tua

Sabtu, 04 November 2017 13:00 Hikmah

Bagikan

Mbah Ngis dan Kepatuhannya kepada Kedua Orang Tua
Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—pernah mengungkapkan bahwa kepatuhannya kepada kedua orang tua melebihi kepatuhan anak-anaknya sendiri kepada beliau. Mbah Ngis tentu tidak bermaksud menyombongkan diri ataupun pamer, tetapi sekadar bercerita berdasarkan pengamatannya bahwa tingkat kepatuhan anak-anak Mbah Ngis  kepada kedua orang tuanya masih jauh dari standar beliau.

Mbah Ngis kemudian menceritakan salah satu kepatuhan beliau terhadap Mbah Abdul Mannan. Setiap kali dipanggil terutama oleh Mbah Abdul Mannan Putri, Mbah Ngis selalu bergegas menjawabnya. Dalam keadaan apa pun, Mbah Ngis akan tergopoh-gopoh menghadap ibundanya begitu mendengar namanya  dipanggil. Meski sedang shalat (sunnah), Mbah Ngis segera menjawab panggilan itu dengan langsung melepas mukena dan membatalkan shalatnya seraya mengatakan,“Inggih Mbok, wonten dhawuh punapa?” (Iya Ibu, saya siap, ada perintah apa?)

Menurut Mbah Ngis, sikap seperti itu didasarkan pada pemahaman beliau terhadap hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi berbunyi:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

Artinya: “Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan murka Allah ada  pada murka kedua orang tua.”

Selain hadits di atas,  Mbah Ngis juga merujuk pada hadits lain yang diriwayatkan Ahmad, An-Nasaai, Ibn Majah dan Al-Hakim berbunyi: 

الْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات

Artinya: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”

Jadi masalahnya Mbah Ngis sangat takut kalau tidak mendapat ridha kedua orang tua sebab hal  itu berarti tidak mendapat ridha dari Allah SWT. Tanpa ridha kedua orang tua berarti menjadi anak durhaka dengan neraka sebagai tempatnya kelak di akherat. Mbah Ngis memang sangat takut terhadap neraka sehingga dalam situasi tertentu gambaran neraka bisa terbayang sedemikian rupa seolah nyata di pelupuk mata. 

Hal itu dapat terlihat ketika Mbah Ngis bercerita tentang dosa dan neraka, Mbah Ngis terkadang menutup wajah dengan kedua telapak tangannya karena serasa “melihat” bara api yang sangat besar. Dilatar belakangi pengalaman seperti itu, Mbah Ngis berulang kali  mengatakan semua dosa anaknya yang berjumlah 13 orang dimaafkan semuanya karena sebagai ibu Mbah Ngis mengaku tidak akan tega anak-anak yang telah dilahirkannya dengan taruhan nyawa dibakar di  neraka karena durhaka. 

Contoh kepatuhan lain adalah Mbah Ngis dilarang belajar naik sepeda oleh Mbah Abdul Mannan Kakung. Mbah Ngis menurut saja. Kata Mbah Ngis, dengan mengutip ayahandanya itu, “Perempuan tidak baik pethakilan.” Larangan semacam ini cukup umum untuk beberapa kalangan pada dekade 1950.   Akibatnya Mbah Ngis kemana saja berjalan kaki meski jarak yang harus ditempuh cukup jauh. Mbah Ngis tidak mengeluhkan hal itu karena meyakini sebagai  bagian dari kepatuhan kepada orang tua. 

Mbah Ngis juga tidak bisa membaca dan menulis huruf-huruf abjad karena tidak pernah disekolahkan.  Hal ini berbeda dengan saudara-saudara Mbah Ngis, baik laki-laki maupun perempuan yang kesemuanya mendapatkan kesempatan sekolah dan mondok di pesantren lain. Mbah Ngis tidak pernah memprotes atas  perlakuan berbeda ini sebab beliau ikhlas dipertahankan tinggal di rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mengasuh adik-adik  dan membantu kedua orang tua bekerja.

Namun demikian, Mbah Ngis bisa berhitung, membaca dan menulis huruf-huruf Al-Qur’an dengan bimbingan langsung dari Mbah Abdul Mannan dan Mbah Umar sebagai abang. Mbah Ngis fasih dan lanyah membaca Al Qur’an meski bukan seorang hafidzah. Mbah Ngis memiliki Kitab Al-Barzanji yang ditulis tangan sendiri. Khat atau tulisan Arab Mbah Ngis tidak kalah dan bahkan lebih baik dari pada beberapa dari saudara-saudara Mbah Ngis. 

Akhirya, sungguhpun Mbah Ngis sangat patuh terhadap kedua orang tua terutama ibundanya, Mbah Ngis mengaku tidak sanggup untuk mufaraqah dengan Mbah Dullah hanya karena persoalan ekonomi. Mbah Ngis sangat meyakini sungguhpun Allah SWT membolehkan perceraian, tapi Allah sangat tidak menyukainya. Cinta dan kepatuhan  Mbah Ngis kepada Allah SWT di atas segala cinta dan kepatuhan kepada siapapun dan apapun. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta