::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

50 Tahun Palestina Berjuang untuk Kemerdekaan

Kamis, 09 November 2017 15:22 Risalah Redaksi

Bagikan

50 Tahun Palestina Berjuang untuk Kemerdekaan
Ilustrasi (© Reuters)
Tahun ini, sudah lima puluh tahun wilayah Palestina diduduki oleh Israel. Hidup yang sebelumnya berlangsung dengan tenang, berubah menjadi petaka ketika ancaman terus datang setiap harinya, saat rumah milik mereka dengan tiba-tiba kejatuhan bom, pengawasan dan halangan untuk memasuki area-area tertentu oleh tentara Israel, dan sulitnya memperolah kebutuhan dasar hidup.

Paradaban Palestina bisa dikatakan hancur. Sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan bagi generasi muda dihancurkan oleh bom-bom yang memiliki daya rusak tinggi. Sumber daya lain seperti guru yang kompeten, buku, dan sarana belajar lainnya sangat minim. Kesempatan untuk belajar menjadi sangat terbatas. Penduduk Palestina hanya bisa berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dalam kondisi yang sangat menekan.

Saat Palestina mengalami keruntuhan dan perderitaan tiada tara. Sementara Israel kini menjadi salah satu bangsa yang paling maju di dunia. Yang menguasai berbagai teknologi paling tinggi. Perguruan tinggi dan lembaga-lembaga risetnya menghasilkan temuan-temuan paling baru untuk menunjang keamanan dan kebutuhan mereka. Sayangnya, apa yang dicapai tersebut menimbulkan ongkos yang sangat besar bagi penduduk Palestina berupa wilayah yang ambil dan penindasan yang mereka lakukan. 

Sebuah kemajuan yang dihasilkan dengan menindas dan mengeksploitasi pihal lain bukanlah sebuah kemajuan yang layak diapresiasi. Inilah kolonialisme yang juga pernah dialami oleh Bangsa Indonesia yang hasil-hasil alamnya diangkut ke Eropa. Penduduk di wilayah Nusantara dengan sengaja dibiarkan terus bodoh dan lemah agar tidak bisa melakukan perlawanan terhadap penjajah. Para pemimpinnya dipecah belah sehingga mudah diadu domba dan tidak mampu menyatukan kekuatan yang terserak. Apa yang dialami oleh Palestina kini, adalah strategi klasik dari pada kolonialis.

Dalam kondisi apa pun, perlawanan harus tetap digelorakan, beragam strategi dan taktik harus dijalankan untuk mencapai tujuan. Tetapi juga tidak bisa melakukan sesuatu secara membabi buta sehingga malah menghancurkan apa yang sudah ada. Perjuangan membutuhkan banyak syarat untuk berhasil, berupa kegigihan, kecerdikan, persatuan, dan syarat-syarat lain yang tak mudah, tetapi harus dijalani.

Perjuangan-perjuangan fisik bersenjata dengan melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan Israel, sejauh ini hanya menghasilkan kekalahan dan kerusakan yang lebih besar di pihak Palestina. Sejauh ini, strategi yang cukup berhasil adalah dengan pendekatan diplomasi. Kini semakin banyak pengakuan internasional atas Palestina seperti oleh UNESCO dan PBB.

Sejumlah negara di Eropa, yang sebelumnya mendukung Israel, kini berubah sikap ketika banyak nilai-nilai kemanusiaan yang dihancurkan oleh Israel. Sejumlah kalangan menggelar kampanye boikot produk-produk Israel yang dihasilkan di daerah pendudukan. Bagi banyak warga Eropa dan negara-negara maju lainnya, nilai-nilai kemanusiaan adalah sesuatu yang sangat mendasar, tidak peduli apa pun latar belakang sosial dan agama, harus dihormati. Diplomasi internasional inilah yang harus terus diperkuat karena terbukti telah memberi hasil yang cukup signifikan dalam perjuangan Palestina.

Kesadaran bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan sendirian juga mulai muncul dengan adanya kesepakatan antara kelompok Fatah dan Hamas. Ada banyak perbedaan antarkelompok, tetapi yang harus ditekankan adalah dengan melihat sisi-sisi yang sama dari berbagai kelompok tersebut, bukan malah menekankan perbedaannya. Ada kepentingan lebih besar yang harus jadi prioritas daripada kepentingan sempit masing-masing kelompok.

Solusi dua negara, yaitu Palestina dan Israel, dengan batas wilayah sebelum pendudukan pada 1967 adalah hal yang paling rasional yang harus diperjuangkan untuk menghasilkan perdamaian antar kedua belah pihak yang bersengketa. Meniadakan salah satunya, baik Palestina atau Israel sebagaimana ide dari kelompok garis keras, tak akan menemukan solusi.

Persoalan yang terjadi di Palestina telah menimbulkan persoalan baru bukan hanya di negara-negara Muslim. Berbagai kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal di berbagai belahan dunia diinspirasi sebagai perlawanan terhadap negara-negara pendukung Israel dengan menghancurkan target dan aset-aset yang mereka miliki.

Kelompok politik tertentu juga menjadikan isu Palestina sebagai alat untuk menarik simpati dan dukungan dari publik. Simbol-simbol Pelestina dijadikan atribut sebagai ide pemersatu yang bisa menjadi sarana memperoleh dukungan politik dan kekuasaan yang ingin mereka raih. 

Dengan situasi seperti ini, maka persoalan Palestina adalah persoalan bersama, bangsa-bangsa di dunia, bukan hanya sekadar persoalan umat Islam atau sekadar bangsa Palestina. Penyelesaian yang baik di pada akar persoalannya, yaitu dukungan penuh terhadap kemerdekaan Pelestina dan upaya rekonstruksi berbagai kerusakan yang selama ini terjadi, akan menyelesaikan berbagai persoalan turunan yang kini terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. (Ahmad Mukafi Niam)