::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dedi Mulyadi: Belajar Agama di Internet, Nafsunya Lebih Besar dari Ilmunya

Sabtu, 11 November 2017 11:34 Nasional

Bagikan

Dedi Mulyadi: Belajar Agama di Internet, Nafsunya Lebih Besar dari Ilmunya
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.
Purwakarta, NU Online
Di era perkembangan teknologi informasi yang semakin berkembang pesat, sebagian masyarakat dan kelompok lebih gandrung belajar agama di internet ketimbang belajar langsung kepada guru maupun kiai yang ahli di bidangnya.

Hal itu menjadi perhatian Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Bahtsul Masail Pra-Munas dan Konbes NU 2017, Jumat (10/11) di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta, Jawa Barat.

Kang Dedi, sapaan akrabnya, menyayangkan ketika seseorang ingin mendalami agama tetapi tidak kenal madrasah dan pesantren. Konten-konten agama di internet akhirnya seolah menjadi rujukan kebenaran tunggal.

“Belajar agamanya di internet, nafsunya lebih besar dari ilmunya. Ketemu ayat sepotong karena yang ngomong doktor dipercaya sebagai kebenaran,” jelas Kang Dedi yang pada kesempatan itu lengkap mengenakan peci, sarung, dan baju putih.

Menurutnya, harus ada pola strategi dakwah di dalam tubuh NU sendiri dalam menyikapi perkembangan teknologi. Namun, Dedi tidak memungkiri dakwah NU melalui santri dan kiainya saat ini sudah masif di dunia maya memberikan pencerahan-pencerahan.

“Pak Said sekarang mempunyai Facebook Teras Kiai Said, ada Gus Mus, ada NU Online yang memberikan perimbangan-perimbangan informasi,” ucapnya.

Menurutnya, semangat NU adalah semangat keindonesiaan yang mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjaga tradisi dan budaya. Indonesia modern, katanya, sudah ada sejak alama.

“Spirit keberadaban Indonesia sesungguhnya menjadi spirit peradaban di dunia,” terang pria yang menjadikan seni, tradisi, dan budaya lokal sebagai spirit pengelolaan pemerintahannya di Purwakarta.

Ia pun mendorong kepada warga NU agar tidak hanya berdakwah di madrasah, majelis taklim, dan pesantren. Menurutnya, orang NU harus ada di pabrik, kantor, dan tempat-tempat umum lain untuk mewarnai Indonesia dengan Islam yang ramah.

“Karena kalau enggak, dakwah di tempat-tempat tersebut akan diisi oleh kelompok-kelompok lain,” tandas Kang Dedi dalam kegiatan bertema Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini. (Fathoni)