::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah

Senin, 13 November 2017 18:01 Ubudiyah

Bagikan

Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah
Hampir setiap orang menginginkan kemauannya terwujud baik itu kemauan baik maupun kemauan buruk. Hanya saja ada kemauan tertentu yang dapat terwujud dengan syarat-syarat tertentu. Di sini hukum kausalitas berlaku. Tetapi ada juga kemauan orang-orang tertentu yang terwujud tanpa bergantung pada syarat apapun. Meski demikian, kemauan yang terwujud itu tak mungkin bersalahan dengan takdir Allah SWT sebagai tampak pada hikmah berikut ini.

سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار

Artinya, “Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir.”

Kalau mau dipetakan, kemauan manusia terdiri atas tiga macam. Pertama, ada kemauan yang tinggal kemauan tanpa upaya dan tanpa hasil. Kemauan seperti ini kerap kali kita dapati melekat pada banyak orang di sekitar kita terutama pada kebaikan sehingga kita sering mendengar orang mengatakan, ‘Saya sebenarnya ingin sekali menghadiri majelis taklim, menuntut ilmu,’ tanpa ada upaya riil. Kedua, kemauan kuat yang diiringi usaha nyata dengan atau tanpa hasil. Ini kita temukan pada pegawai kantoran, petani, nelayan, pemulung, pengusaha, dan seterusnya. Ketiga, kemauan kuat tanpa upaya, tetapi membawa hasil. Kemauan seperti ini jarang kita temukan karena kemauan seperti ini hanya dimiliki oleh para rasul, wali Allah, dan para wali setan seperti penyihir dan lain sebagainya.

قلت: بل تدور مع القدر كيفما دار، حسبما دلت عليه العقول وقضايا الشرع والنقول، فقد قال الله تعالى وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً. وقال صلى الله عليه وسلم كل شيء بقضاء وقدر حتى العجز والكيس. وأنواع الهمم ثلاثة: الهمم القواصر: وهي التى تقتضى العزم والحزم من غير فعل ولا انفعال. والهمم المتوسطة وهي التى توجب مع العزم فعلا ومع الحزم كمالا، سواء وقع انفعال أم لا. والهمم السوابق وهي قوى النفس الفعالة فى الوجود بلا توقف كما يكون من العائن عن خبثة ومن الساحر عن عقده ونفثه ومن المتريض عن تجريد قوى نفسه ومن الولي عن تحققه فى يقينه إذ لا يتوقف انفعال فى كل عن حركة وذلك بقضاء وقدره كما هو. وقد قال في حق السحرة وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Artinya, “Menurut saya, kemauan keras itu dapat terjadi sesuai ke mana takdir itu berpihak. Hal ini ditunjukkan oleh dalil aqli dan naqli seperti firman Allah, ‘Allah menentukan segala sesuatu,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Segala sesuatu itu sesuai dengan putusan dan takdir termasuk kelemahan dan kecerdasan.’ Kemauan terbagi tiga. Pertama, kemauan lemah, yaitu hasrat yang menghadirkan tekad dan keteguhan tanpa upaya nyata dan pengaruh konkret (hasil). Kedua, kemauan standar, yaitu hasrat yang melahirkan upaya nyata di samping tekad, dan totalitas di samping keteguhan baik berhasil atau tidak atas upaya dan tekadnya. Ketiga, kemauan keras, yaitu hasrat berupa kekuatan jiwa yang berpengaruh dalam dunia nyata tanpa tergantung pada sebab seperti ahli hipnotis dengan mata, penyihir berdasar simpul-simpul peraga, mereka yang melatih konsentrasinya dengan memfokuskan pikiran, atau seorang wali berdasarkan keyakinannya. Pengaruh dari kemauan keras mereka atas sesuatu dapat nyata terjadi tanpa didasarkan pada gerak (upaya). Tetapi semua itu terjadi berdasarkan putusan dan takdir Allah. Allah berfirman mengenai para penyihir pada Surat Al-Baqarah ayat 102, ‘Mereka tidak bisa memberi mudharat pada apapun selain dengan izin Allah,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman17).

Kemauan keras atau kemauan pada kategori ketiga dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, kemauan untuk tujuan baik (kemauan mulia) seperti mencari ridha Allah, kemakrifatan, dan seterusnya. Kedua, kemauan untuk tujuan buruk (kemauan tercela) seperti kesenangan duniawi dan seterusnya. Tetapi sekuat apapun kemauan keras itu, putusan dan takdir Allah tetap mengatasinya sehingga para rasul, para wali Allah, dan hali makrifat lainnya–ketika kemauan kerasnya tak terwujud–tetap menjaga adab waktu.

ولما كانت همة الفقير المتجرد لا تخطيء في الغالب لقوله عليه السلام أن لله رجالاً لو أقسموا على الله لأ برهم في قسمهم قال شيخنا ولله رجال إذا اهتموا بالشيء كان بإذن الله وقال أيضاً عليه السلام اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله خشى الشيخ أن يتوهم أحد أن الهمة تخرق سور القدر وتفعل ما لم يجر به القضاء والقدر فرفع ذلك بقوله سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار
والهمة قوة انبعاث القلب في طلب الشيء والاهتمام به فإن كان ذلك الأمر رفيعاً كمعرفة الله وطلب رضاه سميت همة عالية وإن أمراً خسيساً كطلب الدنيا وحظوظها سميت همة دنية وسوابق الهمم من إضافة الموصوف إلى الصفة أي الهمم السوابق لا تخرق أسوار الأقدار أي إذا اهتم العارف أو المريد بشيء وقويت همته بذلك فإن الله تعالى يكون ذلك بقدرته في ساعة واحدة حتى يكون أمره بأمر... فهمة العارف تتوجه للشيء فإن وجدت القضاء سبق به كان ذلك بإذن الله وإن وجدت سور القدر مضروباً عليه لا تخرقه بل تتأدب معه وترجع لوصفها وهي العبودية فلا تتأسف ولا تحزن بل ربما تفرح لرجوعها لمحلها وتحققها بوصفها وقد كان شيخ شيوخنا سيدي علي رضي الله عنه يقول نحن إذا قلنا شيئاً فخرج فرحنا مرة واحدة وإذا لم يخرج فرحنا عشر مرات وذلك لتحققه بمعرفة الله قيل لبعضهم بماذا عرفت ربك قال بنقض العزائم وقد يحصل هذا التأثير للهمة القوية وإن كان صاحبها ناقصاً كما يقع للعاين والساحر عن خبثهما أو لخاصية جعلها الله فيها إذا نظرا لشيء بقصد انفعل ذلك بإذن الله وهذا كله أيضاً لا يخرق أسوار الأقدار بل لا يكون إلا ما أراد الواحد القهار قال تعالى "وما هم بضارين به من أحد إلا بإذن الله" وقال تعالى "إنا كل شيء خلقناه بقدر وقال تعالى "وما تشاؤن إلا أن يشاء الله" وقال صلى الله عليه وسلم كل شيء بقضاء وقدر حتى العجز والكيس أي النشاط للفعل وأشعر قوله سوابق أن الهمم الضعيفة لا ينفعل لها شيء وهو كذلك في الخير والشر وفي استعارته الخرق والأسوار ما يشعر بالقوة في الجانبين لكن الحاصر قاهر فلا عبرة بقوة العبد القاصر وإذا كانت الهمة لا تخرق أسوار الأقدار فما بالك بالتدبير والاختيار الذي أشار إليه بقوله أرح نفسك من التدبير فما قام به غيرك عنك لا تقم به أنت لنفسك

Artinya, “Ketika kemauan keras seorang sufi yang tajrid (sebuah maqam di mana kebutuhannya tersedia tanpa usaha) tak pernah meleset karena sabda Rasulullah SAW ‘Allah mempunyai sejumlah hamba yang bila bersumpah atas nama-Nya niscaya Allah akan mewujudkannya,’ kata guru kami, ‘Allah mempunyai sejumlah hamba yang bila menginginkan sesuatu niscaya terjadi berkat izin-Nya,’ dan sabda Rasulullah, ‘Takutlah kepada firasat orang beriman karena ia melihat dengan cahaya Allah,’ Syekh Ibnu Athaillah khawatir seseorang mengira bahwa kemauan keras (himmah) mereka dapat menerobos pagar takdir dan bergerak di luar ketentuan putusan dan takdir Allah. Karenanya Syekh Ibnu Athaillah mengangkat hikmah, ‘Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir...’

Kemauan (himmah) adalah kekuatan hati yang tergugah dalam menuntut sesuatu dan memikirkannya. Bila sesuatu itu mulia, yaitu makrifatullah dan pengharapan atas ridha-Nya, maka kemauan itu disebut himmah ‘aliyah. Tetapi jika sesuatu itu nista, yaitu mengejar dunia dan bagian-bagian dari duniawi, maka kemauan itu disebut himmah daniyyah. ‘Sawabiqul himam’ merupakan pelekatan diterangkan (D) pada menerangkan (M). Maksud dari ‘Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir’ adalah bila seorang arifin dan murid memikirkan sesuatu dan berkemauan keras, niscaya Allah mewujudkannya seketika dengan kuasa-Nya hingga semua urusannya menjadi urusan Allah.

Kemauan al-arif billah mengarah pada sesuatu. Jika sesuai dengan putusan Allah, maka kemauan itu akan terwujud dengan izin-Nya. Tetapi bila pagar takdir tertutup, maka keinginan itu tak bisa menerobosnya tetapi justru ia menyesuaikan dengan adab yang seharusnya dalam kondisi demikian terhadap Allah dan keinginan itu kembali pada sifatnya, yaitu penghambaan tanpa penyesalan dan kesedihan. Bahkan ia menjadi senang karena keinginan itu kembali pada tempatnya dan sesuai pada sifat aslinya. Guru dari guru kami, Syekh Ali RA berkata, ‘Kami bila ingin sesuatu dan mengatakannya, lalu terwujud, kami sekali senang. Tetapi bila keinginan kami tak terwujud, maka kami sepuluh kali lipat senangnya.’ Hal ini terjadi karena kesejatian makrifatullah orang tersebut. Ketika ditanya, ‘Dengan apa kau kenal Tuhanmu?’ Seorang ulama menjawab, ‘Dengan pembatalan kemauan dan hasrat (kami).’ Kemauan kuat dapat terwujud sekalipun orang yang menginginkannya tidak sempurna seperti mereka yang mengandalkan kekuatan mata dan penyihir atau sebuah benda yang Allah berikan keistimewaan padanya. Ketika keduanya memandang sesuatu dengan tujuan tertentu, maka sesuatu yang dipandang itu akan berubah sesuai kemauan mereka berdua dengan izin Allah. Semua itu juga takkan dapat menerobos pagar takdir. Itu terjadi hanya karena kehendak Allah yang maha esa dan kuasa sesuai firman Allah, ‘Mereka tidak bisa mencelakai seorang pun kecuali dengan izin Allah,’ ‘Sungguh, kami menciptakan sesuatu dengan takdir,’ ‘Tidaklah kalian berkehendak kecuali Allah menghendaki,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Setiap sesuatu mesti sesuai putusan dan takdir termasuk lemah dan kecerdasan (maksudnya semangat bergerak).’

Hikmah ini menyatakan secara tersirat bahwa kemauan yang kendur dan lemah tidak membekas apapun dalam kehidupan nyata sekalipun itu berupa kebaikan maupun keburukan. Kata ‘menerobos’ dan ‘pagar’ mengisyaratkan kekuatan di kedua pihak. Tetapi dinding yang memagari itu begitu perkasa sehingga tiada artinya kekuatan seorang hamba yang serba terbatas. Kalau sebuah kemauan keras saja (dalam pengertian Syekh Zarruq) tidak bisa menerobos pagar takdir, apa artinya gagasan yang masih dalam rencana dan upaya sebagai diisyaratkan dalam hikmah Ibnu Athaillah berikutnya, ‘Rihatkan dirimu dari rencana-rencana. Apa yang dilakukan oleh selainmu (Allah) untukmu, jangan lagi kau melakukannya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 15-16).

Meskipun semua terjadi berdasarkan kehendak Allah, kita tetap harus mempertimbangkan hukum kausalitas, hukum alam sebagai ketetapan Allah. Pasalnya, hukum kausalitas dan hokum alam sebagai sunatullah cukup kuat dan kuasa.

إن الجواب يتلخص في أن التعامل مع الله إنما يكون بالانسجام مع أوامره والتعامل مع نظامه الذي أقام هذا الكون على أساسه. وقد أمرنا إذا جعنا أن نأكل، وإذا ظمئنا أن نشرب، وإذا مرضنا أن نبحث عن الدواء، وأن نأخذ حذرنا مما يبدو أنه سبب للآلام أو الهلاك أو الأسقام. ثم أمرنا أن نعلم علم اليقين أن لا فاعلية إلا لله، وأن لا تأثير إلا بحكم الله، وأن نعلم أن الله هو الخالق لكل شيء والآمر له بأداء الوظيفة التي وكلت إليه أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Artinya, “Jawabannya dapat diringkas bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya. Sedangkan sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam. Allah memerintahkan kita untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari obat bila sakit, dan menjaga kesehatan serta waspada terhadap segala yang menyebabkan kita celaka dan sakit. Kemudian Allah juga memerintahkan kita untuk mengetahui dengan ilmul yakin bahwa tidak ada satupun yang berbuat sesuatu selain Allah, tiada sesuatu berpengaruh selain dengan sunatullah. Kita juga diperintahkan untuk meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu di alam ini untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang dititipkan padanya sebagai firman Allah pada Surat Al-Araf ayat 54, ‘Ketahuilah, di hanya milik-Nya segenap makhluk dan segenap urusan,’” (Lihat Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, 2003 M/ 1424 H, juz I, halaman 69-70).

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menempatkan Al-Hikam karya Ibnu Athaillah ini sebagai pengetahuan praktis. Dalam konteks hikmah ini, ia menyarankan kepada pembaca Al-Hikam untuk memperhatikan hukum kausalitas dan hukum alam. Meskipun sakit dan sehat adalah kehendak Allah, kita sebagai manusia–menurutnya–harus tetap berupaya untuk menjaga kesehatan dan berupaya hidup sehat.

Di tangan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam mengajarkan kita menjadi manusia secara wajar dan fithri. Jangan sekali-kali tidak tertib lalu lintas. Jangan berdiam diri tanpa mencari obat ketika sakit meski kesembuhan ada di tangan Allah. Jangan coba-coba berdiam diri tidak belajar, tidak sekolah, tidak ngaji, tidak mondok… Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)