::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan dengan Zikir

Rabu, 15 November 2017 20:00 Internasional

Bagikan

Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan dengan Zikir
Gorontalo, NU Online
Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) Asia Tenggara Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi menyatakan, Zikir Tauhid Tasawuf bisa membersihkan batin kita dari hudud (mencari keuntungan diri). Zikir Tauhid Tasawuf juga dapat membersihkan hati dari merasa bangga dengan yang telah Allah titipkan pada kita seperti ilmu pengetahuan, harta, jabatan, kedudukan.

“Semua itu milik Allah SWT semata yang dilimpahkan kepada kita untuk dipergunakan sesuai dengan ridha-Nya dengan jalan mensyukuri dan mempergunakan untuk memberikan manfaat bagi saudara-saudara kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini,” ujar Abuya di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri Kota Serambi Madinah Berzikir, Senin (13/11), di Gorontalo.  


Lalu, zikir seperti apa yang bisa membuat kita sadar bahwa semua yang kita miliki adalah amanah Allah semata? Abuya memberikan petunjuk.

"Sebelum berzikir kita harus meyakini (itikad) bahwa diri kita adalah budak yang hina, banyak dosa dan kesalahan, mengharap keampunan fadhal Allah dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan serta tidak berkemauan untuk melakukannya lagi," katanya.

Selain itu, kita hendaknya merasa orang yang paling jelek dari sekalian makhluk, sekalipun dengan orang yang berbuat kesalahan, karena mereka ini kesalahannya dimaafkan oleh Allah, sementara untuk kita tidak ada maaf. 

“Kita juga hendaknya idhtirar yakni berhajat kepada Allah, tidak putus asa dari amalan pekerjaan yang telah kita lakukan, agar terlihat kelembutan kilat cahaya kasih sayang Allah SWT,” tutur Abuya.

Menurut Abuya, zikir merupakan kendaraan atau ibarat pesawat yang membawa kita terbang meninggalkan alam fana (khalqiyah) dunia ini serta diri kita, menuju kepada Alam Uluhiyah. 

Lebih lanjut Abuya menegaskan, jika kita sudah bisa berzikir seperti di atas, maka kita akan menjunjung tinggi perintah dan larangan Allah SWT dengan mudah, tidak ada rasa berat melakukannya. Kita juga akan memiliki akhlak mulia, karena percaya penuh dengan ketentuan (qadar) Allah SWT, sebab segala sesuatu tidak lepas dari qadar Allah SWT.

"Kita akan terbebas dari berpikir melakukan sesuatu yang bertentangan dengan qadar ketentuan Allah SWT, sehingga kita dapat bermakrifat, bertauhid yang benar, karena telah mendapat cahaya hakikat dan berhakikat untuk melepaskan syirik khafi dan batin kita," tandasnya.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Hikam, Cibinong, Bogor Syekh KH Zein Djarnuzi yang memimpin zikir dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa barang siapa yang berzikir dengan mengucap laillaha illallah maka 7 pintu langit akan terbuka. Juga keberkahan akan turun dari langit. Syaratnya, zikir yang kita lakukan penuh dengan khusyu dan ikhlas.

“Agar kita bisa berzikir dengan ikhlas, semata-mata hanya karena Allah, maka harus melatih zikir sebanyak-sebanyaknya," ungkap Syekh Zein.

Lebih lanjut, kalaupun zikir kita belum bisa khusyuk dan ikhlas, maka teruslah berzikir sampai suatu saat bisa zikir dengan ikhlas.

"Jangan tinggalan zikir, hanya karena belum bisa ikhlas,” ujarnya. 

Syekh Zein menyatakan bahwa kita sebagai manusia derajatnya lebih mulia daripada dunia beserta isinya, karena dunia tidak dituntut makrifat, sementara manusia bisa bermakrifat kepada Allah SWT.

"Karena itulah, dalam berzikir hendaknya lepaskan semua urusan dunia, lupakan pangkat, jabatan, kedudukan harta dan apapun agar kita bisa 'berangkat' menuju Allah SWT," pungkas Syekh Zein.

Kota Serambi Madinah Berzikir merupakan rangkaian acara Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf Asia Tenggara I yang diselenggarakan di Masjid Al-Huda, Kota Gorontalo. Acara zikir ini dihadiri para ulama tasawuf dari berbagai negara di Asia Tenggara antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam dan lain sebagainya.

Muzakarah berlangsung selama tiga hari, yakni 14-16 November 2017. (Firmansyah Rohman/Kendi Setiawan)