::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU

Jumat, 24 November 2017 23:31 Pesantren

Bagikan

Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU
Yayasan Darul Qur’an berada di desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pesantren tersebut akan menjadi tempat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama  dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, Sabtu (2/11). Rencananya penutupan akan dihadiri Wakil Presiden H. Jusuf Kalla.

Pesantren itu resmi didirikan sebagai yayasan oleh TGH Shaleh Hambali pada tahun 1955. Berarti baru sekitar dua tahun ia menjabat Rais Syuriyah PWNU NTB. Sementara praktik belajar-mengajar, pesantren itu telah berlangsung sejak lama, dari tahun 1930. 

Pada tahun 1930, Tuan Guru Bengkel baru pulang belajar dari Timur Tengah. Ia memulai berdakwah dengan pengajian umum kepada masyarakat setiap Rabu. Lama-kelamaan pengajiannya ramai dikunjungi masyarakat umum. Tak hanya itu, anak-anak mulai nyantri. Maka mulailah pengajian muallimin setiap pagi. 

Selama tahun 1930-an, santri-santri berdatangan dari seluruh kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Juga dari Bali dan Nusa Tenggara Timur.  

Melihat perkembangan itu, Tuan Guru Bengkel membuka lembaga pendidikan formal Madrasah Ibtida’yah (MI) di tahun 1955. 

Angkatan pertama santrinya itu termasuk almarhum TGH Mansur Abas, ayahnya TGH. Acmad Taqiuddin Mansur (ketua PWNU NTB sekarang), termasuk TGH Taqi juga nyantri di situ.

Tokoh-tokoh NU di Lombok saat ini, rata-rata pernah berguru ke Tuan Guru Bengkel, di antaranya TGH Lalu Turmudzi Badrudin, pengasuh pondok pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah. Saat ini dia merupakan salah seorang Mustasyar PBNU. 

Yayasan Darul Qur’an pernah mengalami kemunduruan, tapi bisa diatasi para pelanjutnya. Pada perkembangan selanjutnya, Yayasan Darul Qur’an membuka lembaga formal seperti MTs, MA, SMK Juruan Komputer dan Otomutif. Di bidang nonformal seperti tahfidzul Qur’an. 

Setiap tahun, lembaga pendidikan tersebut menerima siswa rata-rata 3 kelas. Jumlah keseluruhan terdapat 1.100 an murid. Padahal SMP Negeri dan SMA negeri ada di dekat pesantren itu, tapi masyarakat masih mempercayai Darul Qur’an sebagai tempat anaknya menimba ilmu.

Kepercayaan masyarakat terhadap pesantren Darul Qur’an karena di yayasan tersebut masih tetap mengajari anak-anak dengan pelajaran Ahlussuna wal Jamaah ala NU. (Abdullah Alawi, disarikan dari berbagai sumber)