::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar Jahit Sejak Kecil, Kini Susiyati Jadi Pengusaha Batik Beromzet Puluhan Juta

Kamis, 21 Desember 2017 03:41 Daerah

Bagikan

Belajar Jahit Sejak Kecil, Kini Susiyati Jadi Pengusaha Batik Beromzet Puluhan Juta
Banyuwangi, NU Online
Banyak orang meyakini pendidikan adalah kunci dalam meraih kesuksesan di bidang usaha apapun. Berbeda dengan Susiyati pengusaha batik asal Kecamatan kabat, Kabupaten Banyuwangi, ia menampik keyakinan bahwa pendidikan adalah segalanya. Dia yakin yang terpenting menjalankan usaha dengan kemampuan soft skill yang mumpuni diimbangi dengan keberanian. Sebagaimana ia merintis usaha batik mulai awal.

"Sudah jamak orang-orang menilai bahwa pendidikan adalah segalanya. Namun sekarang anggapan seperti itu tidak juga benar. Nyatanya sekarang banyak lulusan sarjana atupun magister kebingungan mengurusi dirinya sendiri, apalagi mengurus orang lain. Boleh jadi mereka secara keilmuan mumpuni, belum tentu juga dalam aplikasi lapangan mereka menguasai," tutur istri Mujiono ini.

Susi mengaku, sejak duduk sekolah dasar ia mulai belajar menjahit dan sekaligus membordir di bawah panduan bibinya. Dengan sabar ia menerima berbagai arahan dari bibinya. Karena ia meyakini berawal dari bimbingan bibinya, mampu menjadikan penjahit dan pembordir profesional di kemudian hari.

Konsistensi, kerja keras, dan pantang menyerah yang dimiliki Susi benar-benar diterapkan. Pada akhirnya, lulus SMP ia memilih untuk bekerja dalam bidang garment di Pulau Dewata. 

"Pemilihan ini penuh tantangan dengan terus fokus untuk terus belajar dan berjuang. Pilihan bekerja dalam bidang garment ini saya lakukan sampai dapat mendirikan usaha sendiri dalam bidang bordir dan menjahit. Meski kain didapatkan dari perusahaan lain, saya hanya membantu menjahit dan membordirkannya. Selepas itu, baru dikirim kembali. Pun tak menolak jika ada pelanggan yang ingin menjahit dan membordir pakaian pribadi. Sampai saat itu memiliki karyawan tetap," ujar ibu asal Gintangan ini.

Peningkatan ekspektasi selera

Selang beberapa tahun pendirian usaha pribadi di bidang jahit dan bordir, mendapat tawaran pesanan konsumen untuk produksi kain dan baju batik. "Hal ini terjadi saat awal kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas. Kebetulan juga dari desa ada undangan pelatihan membatik. Sayang, saya pribadi masih belum dapat menghadiri. Pada akhirnya saya pinta karyawan untuk menghadiri pelatihan tersebut,'' terang Susi.

Sehabis menghadiri pelatihan, karyawan langsung ditanya oleh Susi hasil pelatihan tadi. ''Dari laporan karyawan, saya mengetahui secara global akan teknik membatik. Dan tidak ada yang salah bidang batik ini digeluti sebagai pembelajaran dan kemampuan baru dalam bisnis. Bermodal Rp 5 juta untuk pembelian peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membatik,'' kata Susi.

Sudah biasa dalam tahap awal mengalami banyak kegagalan, terang Susi, akan tetapi harus dilakukan untuk terus belajar keluar dari zona nyaman (comfort zone). Barulah hasil jerih payah susi dapat dirasakan ketika proses pembelajaran yang tak kurang dari setahun.

"Saya fokus pada pembuatan motif batik asal Banyuwangi saja. Karena memang calon konsumen masih lebih banyak kalangan regional. Selain itu, pemasaran juga dilakukan dari penjualan online melalui market place yang diinisiasi oleh Pemerintah Banyuwangi (www.banyuwangi-mall.com),'' ujar pemilik galeri batik 'Gondho Arum' di Dusun Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi.

Ia mengaku tak jarang pada hari normal galeri batik ibu tiga orang anak ini selalu ada saja kunjungan. ''Karena konsumen butuh batik untuk koleksi dan tak jarang  buat oleh-oleh khas Banyuwangi. Semenjak era Pak Anas sangat luar biasa sekali kunjungan tamu-tamu pemerintah baik di tingkat regional sampai pusat.

Ditambah seringkali para kiai dan santri membeli batik saat hari raya telah tiba. selain untuk parsel juga digunakan untuk pakaian baru. Alhamdulillah dari modal awal hanya Rp 5 juta, kini berhasil meraih omzet Rp 45 juta per bulan,'' jelas Susi.

"Intinya jangan sampai minder meski pendidikan terakhir hanya SMP. Hampir setiap tahun usaha dan kreatifitas produk saya memenangi perlombaan dalam event Banyuwangi Batik Festival (BBF). Diantarnya; pada tahun 2016 juara II kategori lomba kemasan barang dan di tahun 2017 juara II lomba design batik kategori icon IKM. Semoga selalu membawa keberkahan dan produk saya selalu memberikan keharuman dalam setiap hati konsumen," harap Susi. (M. Sholeh Kurniawan/Fathoni)