::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Sholah Ungkap 3 Warisan Gus Dur untuk Bangsa Indonesia

Sabtu, 30 Desember 2017 07:29 Nasional

Bagikan

Gus Sholah Ungkap 3 Warisan Gus Dur untuk Bangsa Indonesia
Jombang, NU Online
Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Popularitasnya lintas agama, lintas generasi dan lintas zaman. Meski jasadnya telah wafat, Gus Dur mewariskan nilai-nilai luhur dalam berkehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Seperti yang diutarakan oleh adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) bahwa ada tiga hal yang diwariskan oleh Gus Dur untuk bangsa ini.

"Pertama, demokrasi. Demokrasi yang dicita-citakan Gus Dur merupakan demokrasi substansial, tidak prosedural apalagi transaksional seperti sekarang," beber Gus Sholah dalam acara Haul ke-8 Gus Dur di Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (28/12) malam.

Kedua, lanjut Gus Sholah adalah pluralisme, pluralisme yang tidak bisa dipisahkan dengan toleransi.

"Nilai pluralisme di dalamnya ada toleransi. Ada Bhinneka Tunggal Ika, yang mengusulkan ini adalah Moh. Yamin yang disetujui oleh Bung Karno yg kemudian disetujui oleh BPUPKI," jelas salah satu Tokoh NU ini.

"Toleransi kita pasif. Gus Dur toleransinya aktif yang ikut menyumbangkan pikiran dan tindakan untuk memecahkan masalah," imbuh kiai pegiat literasi ini.

Ketiga adalah nilai kemanusiaan, Gus Sholah mengisahkan Gus Dur pernah diminta untuk menjadi saksi pernikahan umat Konghucu.

"Gus Dur (pernah diminta, red) menjadi saksi di dalam sidang pengadilan pernikahan orang Konghucu yang tidak boleh menikah dengan cara orang Konghucu, kemudian Gus Dur mengusulkan bahwa orang Konghucu diizinkan menikah dengan cara Konghucu. Dan hakim memutuskan untuk menyetujui orang Konghucu menikah dengan cara Konghucu," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa agama-agama yang ada di Indonesia itu usianya jauh lebih tua dari pada Indonesia itu sendiri.

"Indonesia tidak bisa melarang agama-agama itu," pungkasnya. (Rif'atuz Zuhro/Fathoni)