::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Ciptakan Perdamaian, Cara Selesaikan Penderitaan Bangsa Palestina

Selasa, 09 Januari 2018 23:59 Internasional

Bagikan

Ciptakan Perdamaian, Cara Selesaikan Penderitaan Bangsa Palestina
Mohamad Torokman / Reuters
Jakarta, NU Online
Mantan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi Hak Asasi Manusia kawasan Palestina Makarim Wibisono mengatakan, penderitaan bangsa Palestina akan berakhir kalau formula perdamaian dan penyelesaian konflik antara Palestina dan Israel. 

“Sebelum ada peace (perdamaian), ya bantu bagaimana caranya menciptakan peace,” kata Makarim di Jakarta, Selasa (9/1).

Ia menyarankan agar negara-negara yang ingin membantu Palestina bisa lebih fokus dalam menciptakan perdamaian antara Palestina dan Israel, bukan hal-hal yang sifatnya kecaman dan kutukan saja kepada pihak Amerika Serikat dan Israel. Caranya dengan membuat gagasan atau ide yang bisa menjadi solusi jalan tengah untuk menyelesaikan konflik dua negara tersebut.

“Jangan melangkah-langkah sesudah peace itu ada. (memberikan) Latihan ini, itu (kepada warga Palestina),” tegasnya.

Untuk menyelesaikan konflik Palestina, ia menyamakannya dengan kondisi Indonesia saat belum merdeka dulu. Pada saat Indonesia dijajah, ada beberapa usulan untuk menyelesaikan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah usulan dibentuknya Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Belgia, Australia, dan Amerika Serikat. 

“Ini yang berusaha untuk mencari jalan tengah,” ucapnya.

Ia menambahkan, Indonesia jangan pernah ragu dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Indonesia juga seharusnya terus mendorong agar hasil voting Sidang Umum PBB tahun 2017 lalu bisa dilaksanakan sehingga perdamaian bisa segera terwujud.

Status Yerusalem merupakan jantung konflik yang tidak berkesudahan antara Israel dan Palestina. Israel menduduki Yerusalem Timur dan menjadikannya sebagai ibu kota yang tidak bisa ditawar lagi. Sementara Palestina menganggap Yerusalem Timur adalah ibu kota negara masa depan mereka. (Muchlishon Rochmat)