::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Enam Adab Pembantu kepada Majikan Menurut Imam al-Ghazali

Kamis, 11 Januari 2018 17:00 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Enam Adab Pembantu kepada Majikan Menurut Imam al-Ghazali
Ilustrasi (via klikbagikancom)
Hubungan pembantu (PRT) dengan majikan merupakan hubungan kerja atau hubungan sosial ekonomi. Masing-masing pihak memiliki hak dan kewajibannya sebagaimana disepakati bersama baik secara tertulis maupuan lisan saja. Oleh karena itu ada etika tertentu yang disebut adab bagi seorang pembantu terhadap majikannya. Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Dîn dalam Majmû'ah Rasail al-Imâm al-Ghazâli (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 445) menyebut enam adab pembantu kepada majikannya sebagai berikut:

آداب العبد مع سيده: يأتمر لأمره، وينصحه في غيبته، ويبذل له خدمته، ويحفظه في حرمته، ويرق على ولده، ولا يخونه في ماله.

Artinya: “Adab pembantu kepada majikan, yakni melaksanakan perintahnya, menaati nasihatnya ketika sang majikan pergi, memberikan pelayanan kepada majikan, menjaga kehormatan majikan, mengasihani anak majikan dan tidak berkhianat dalam menjaga harta benda majikan.”

(Baca juga: Enam Adab Majikan kepada Pembantu Menurut Imam al-Ghazali)
Dari kutipan di atas dapat diuraikan enam adab pembantu kepada majikan sebagai berikut:

Pertama, melaksanakan perintah majikannya. Apapun perintah majikan harus dilaksanakan oleh pembantu selama hal itu sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati bersama. Seorang pembantu tidak boleh sengaja mengabaikan perintah-perintah majikan sebab hal ini bisa menimbulkan konflik di antara mereka. Apabila hal ini dilakukan secara berulang-ulang dan sangat merugikan majikan, ia bisa memberikan sanksi tertentu hingga memutus hubungan kerja dengan pembantu tersebut. Apalagi bila hal ini telah diatur dalam kesepakatan kerja. 

Kedua, menaati nasihat majikan ketika ia pergi. Sudah umum seorang majikan memberikan welingan (pesan atau nasihat) tertentu kepada pembantu selama ia tak ada di rumah. Misalnya, ia berpesan agar pembantu tidak menerima tamu siapapun demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Atau majikan berpesan agar pembantu mengingatkan anak-anaknya supaya tetap rajin melaksanakan shalat, berangkat sekolah seperti biasa dan belajar dengan baik di rumah. Seorang pembantu harus mengindahkan nasihat atau pesan tersebut.   

Ketiga, memberikan pelayanannya kepada majikan. Seorang pembantu adalah orang yang terikat dengan majikannya. Ia harus melayani majikan beserta keluarganya dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang pekerja ia harus profesional sesuai bidangnya. Jika seorang majikan meminta seorang pembantu tertentu untuk menjadi juru masak di keluarganya, maka ia harus berusaha menjadi juru masak yang baik. Demikian pula jika ia meminta seorang pembantu lainnya untuk fokus dalam kebersihan rumah, maka pembantu tersebut harus rajin membersihkan rumah dan barang-barang perabot rumah tangga secara teratur.

Keempat, menjaga kehormatan majikan. Seorang pembantu harus menjaga kehormatan majikannya terlepas apakah dia adalah orang terpandang atau bukan di masyarakat. Sering kali orang beranggapan bahwa adab seorang pembantu dipengaruhi oleh bagaimana seorang majikan melatih dan membiasakannya. Hal ini tampak, misalnya, dari bagimana ketika seorang pembantu membukakan pintu untuk tamu-tamu yang datang kepada majikannya, lalu mempersilakannya masuk dan duduk di ruang tamu yang disediakan. Seorang pembantu harus berlaku sopan terhadap siapapun tamu yang datang karena ia telah menjadi bagian dari rumah tangga keluarga majikan.  

Kelima, mengasihani anak majikan. Seorang pembantu harus memiliki sikap mengasihani kepada anak-anak majikan baik ketika orang tuanya ada di rumah maupun sedang pergi. Ia tidak boleh berlaku kasar atau seenaknya kepada anak-anak itu meskipun ia kurang suka kepada orang tuanya yang mungkin terkadang bersikap galak terhadapnya. Jadi seorang anak yang masih kecil harus diperlakukan secara baik oleh pembantu terlepas dari bagaimana orang tuanya memperlakukan dirinya. Dengan kata lain, seorang pembantu tidak boleh melampiaskan dendam kepada anak-anak majikan karena bagaimanapun mereka masih kecil dan tidak bersalah. 

Keenam, tidak berkhianat dalam menjaga harta benda majikan. Seorang pembantu bagimanapun adalah orang lain tetapi menjadi bagian rumah tangga dari keluarga majikan. Secara tradisional ia tinggal satu rumah dengan keluarga majikan. Oleh karena itu seorang pembantu harus benar-benar dapat dipercaya dalam menjaga harta benda majikannya baik ketika majikan sedang ada di rumah maupun ketika ia sedang di luar rumah untuk suatu keperluan. Dengan kata lain seorang pembantu haruslah orang yang benar-benar memiliki sifat jujur dan amanah. 

Demikianlah enam adab pembantu kepada majikan sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Keenam adab ini bersifat minimal karena sudah pasti masih ada adab-adab lain yang bersifat kondisional karena bergantung pada adat atau budaya dalam suatu wilayah dimana majikan tinggal. Di era globalisasi tidak bisa dihindari kemungkinan seorang pembatu rumah tangga (PRT) bekerja pada seorang majikan yang  memiliki latar belakang budaya dan bahkan agama yang berbeda dari latar belakang PRT tersebut. Maka menjadi penting bagi pembantu yang bekerja pada majikan asing untuk menyadari hal itu dan lalu menyesuaikan seperlunya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Agama Islam (UNU) Surakarta