::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an

Kamis, 18 Januari 2018 06:00 Buku

Bagikan

Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an
Tidak ada kitab suci suatu agama yang dihafal jutaan orang kecuali Al-Qur’an. Sejak diturunkan -15 abad lalu- hingga hari ini, penghafal Al-Qur’an tidak surut namun malah terus bertambah. Sehingga andaipun Al-Qur’an yang ada di dunia ini hilang atau dihilangkan, maka otentisitas Al-Qur’an akan terjamin karena itu sudah tertanam di dalam memori setiap penghafal Al-Qur’an.

Ada yang mengatakan kalau menghafal Al-Qur’an itu gampang-gampang susah. Gampang kalau hanya menghafalnya saja, susahnya adalah menjaganya. Sebetulnya, menghafal Al-Qur’an juga tidak gampang-gampang amat –apalagi mereka yang tidak memiliki kekuatan menyimpang ingatan yang kuat, setidaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk menghatamkan 30 juz Al-Qur’an. Pasti ada banyak rintangan selama menghafalkan kitab suci tersebut, mulai dari malas, tidak konsisten, hingga ragu dengan niatnya menghafal Al-Qur’an di ‘tengah jalan.’

Ditambah, sulitnya menjaga Al-Qur’an. Butuh konsistensi dan komitmen yang kuat untuk menjaga Al-Qur’an. Tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang diberikan anugerah saja yang mampu menjaga Al-Qur’an hingga akhir hayatnya dan mengamalkannya. Orang yang tidak memiliki komitmen kuat pasti akan ciut duluan. Mereka yang hanya sebatas ikut-ikutan atau mengikuti tren menghafal Al-Qur’an tentu akan terpental dengan sendirinya. 

Banyak yang hafal Al-Qur’an, namun apakah semuanya memahami isi, mempraktikkan, dan mengamalkannya? Mereka yang hanya ‘mempraktikkan’ Al-Qur’an di bibir saja juga tidak sedikit. Sementara tindak-tanduknya masih jauh dari Al-Qur’an, bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an. Ini yang seharusnya menjadi ironi.

Di dalam bukunya ini, Ulin Nuha Mahfudhon berupaya untuk memaparkan liku-liku perjuangan menghafal Al-Qur’an. Pun dijelaskan pula upaya, langkah, atau tips menjaga Al-Qur’an agar terus ada di hati. Pemaparan yang ada tidak hanya didasarkan kepada pengalaman penulis semata, tapi ia juga mengutip dari beberapa referensi yang terkait dengannya sebagai penguat daripada apa yang ia alami.

Buku setebal 197 halaman ini berisikan lima bab. Bab pertama membahas tentang proses penjagaan Al-Qur’an hingga hari kiamat. Pada bagian ini, penulis banyak mengutip sumber-sumber yang ada, baik dari Al-Qur’an itu sendiri atau pun hadist. Bab kedua mendiskusikan tentang menghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Pada bagian ini, penulis banyak menceritakan pengalaman menghafal Al-Qur’an sewaktu ia masih kecil. Di bagian ini, ia juga mengulas bagaimana pentingnya peran keluarga dan lingkungan bagi seorang anak dalam menghafal Al-Qur’an. 

“Selain melarang tidur setelah salat Subuh Ayah juga mewajibkan kami ber-talaqqi (mengaji) Al-Qur’an kepada beliau setelah salat Subuh.” (hal. 32)

Bab ketiga mengkaji tentang cara dan strategi menghafal Al-Qur-an. Di dalam menghafal Al-Qur’an, penulis mengingatkan bahwa yang utama dan pertama adalah niat. Mereka yang hendak menghafalkan Al-Qur’an harus memiliki niat yang lurus dan tulus karena Allah. Bukan untuk pamer, apalagi untuk menghasilkan uang. Di samping itu, penulis juga menekankan pentingnya belajar agama, terutama menghafal Al-Qur’an, kepada seorang guru sehingga sanad keilmuannya tersambung kepada Nabi Muhammad. Jangan sampai menghafal Al-Qur’an tanpa bimbingan seorang guru. 

Bab keempat mengupas tentang suka duka dalam proses menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan. Ada masanya -di tengah-tengah proses menghafal Al-Qur’an- dimana orang merasa bosan, tidak sabar ingin cepat selesai, putus asa, konsistensinya menurun, dan lainnya. Suka duka tersebut dijelaskan secara cukup komprehensif dalam bagian ini.

Bab terakhir menelaah tentang keutamaan bagi penghafal Al-Qur’an. Pada bagian ini, penulis mengingatkan agar mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an, setelah dibaca dan dipahami isinya. Membaca Al-Qur’an seharusnya bukan dimaksudkan untuk mencari pembenaran atas tingkah laku kita, namun membaca Al-Qur’an semestinya untuk memperbaiki perbuatan kita. 

Buku ini bisa menjadi semacam 'jalan' bagi orang-orang yang hendak menghafal Al-Qur'an. Mereka tidak akan bimbang lagi mau memulai darimana atau bingung  ketika 'persoalan-persoalan' dalam proses menghafal Al-Qur'an menderanya, karena jawabannya tersaji dalam buku ini. Selamat membaca.  

Identitas buku:

Judul : Jalan Penghafal Al-Qur’an
Penulis : Ulin Nuha Mahfudhon
ISBN : 717101894
Tebal : 197 halaman
Terbit : November 2017
Peresensi : A Muchlishon Rochmat