::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

250 Ribu Anak-anak di Sudan Selatan Beresiko Tinggi Segera Meninggal

Sabtu, 20 Januari 2018 14:00 Internasional

Bagikan

250 Ribu Anak-anak di Sudan Selatan Beresiko Tinggi Segera Meninggal
foto: UNICEF/AP
Jakarta, NU Online
Lebih dari 250 ribu anak-anak di Sudan Selatan beresiko tinggi segera meninggal karena kekurangan gizi. Mereka juga mengalami kelaparan karena disebabkan perang saudara yang tak kunjung reda. Tahun ini, perang saudara di Sudan Selatan sudah memasuki tahun kelima.

Direktur Eksekutif Badan Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Henrietta H Fore mengatakan, situasi di Sudan Selatan sudah begitu sangat serius dan menghawatirkan. Ia mengungkapkan itu setelah melakukan kunjungan dua hari ke beberapa wilayah yang paling terkena dampak perang sipil negara tersebut.

“Ini sangat serius di Sudan Selatan, kata Henrietta seperti dilansir Aljazeera, Jumat (19/1).

Dia sangat menyebutkan, kondisi seperempat juta anak-anak di sana yang akan segera meninggal pada tahun ini jika tidak segera mendapatkan bantuan. 

Perang di Sudan Selatan telah memporak-porandakan kehidupan di sana, termasuk sektor pertanian yang notabennya menjadi sumber produksi makanan. Para petani tidak berani lagi bertani karena takut akan kekerasan yang ada. Ini menyebabkan makanan di sana begitu langka. Ditambah, saat ini Sudah Selatan sedang memasuki musim kemarau. Artinya makanan akan semakin langka karena air untuk bertani hanya tersedia sedikit. 

"Malnutrisi akut dan parah semakin kuat," katanya.

Perang di Sudan Selatan bermula pada 2013 lalu setelah Presiden Salva Kiir menuduh mantan Deputi Riek Machar merencanakan sebuah kudeta. Konflik ini telah mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dan jutaan orang lainnya pindah dari daerahnya. 

Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan terjadi pada anak-anak. Setidaknya 2,4 juta anak-anak dipaksa untuk meninggalkan rumahnya, 2300 meninggal, 19 ribu direkrut menjadi milisi bersenjata. Yang lebih parah, 70 persen anak-anak Sudan Selatan tidak mendapatkan akses pendidikan karena sebagian besar sekolahnya rusak atau ditutup akibat perang. (Red: Muchlishon Rochmat)