::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Irit Bukan Berarti Pelit

Jumat, 02 Februari 2018 22:30 Ngobrolin Duit

Bagikan

Irit Bukan Berarti Pelit
Salah satu hal penting dalam mengelola keuangan adalah menanfaatkan penghasilan dengan tepat dan bijak. Apakah penghasilan yang kita peroleh akan kita gunakan untuk membeli sesuatu yang kita perlukan, bersedekah, membantu kerabat atau disimpan untuk kebutuhan masa depan? Simpelnya, memanfaatkan uang dengan tepat dan bijak disebut “irit”. Irit ada macam-macam. Ada irit pakai, yaitu tidak mengonsumsi secara berlebihan. Ada juga irit beli, yaitu mengutamakan kebutuhan daripada keinginan semata.
 
Dengan irit, niscaya kita akan punya lebih banyak uang untuk tujuan-tujuan hidup yang lebih baik.

Sebuah pertanyaan kerap menggoda iman: kalau kita tidak kekurangan - apalagi jika penghasilan kita terus naik - kenapa kita harus irit? Memangnya tak boleh kita menikmati hasil jerih payah dengan sedikit bermewah-mewah? Ya, penghasilan yang meningkat biasanya diikuti juga dengan keinginan-keinginan yang membesar, atau munculnya keinginan-keinginan yang sebelumnya bahkan tak pernah kita pikirkan. Biasanya terkait dengan gaya hidup. Ketika godaan datang, ingatlah bahwa berlebih-lebihan adalah perbuatan setan.

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
Keinginan tak terkendali adalah biang kerok gagalnya tujuan keuangan kita, bahkan bisa menyebabkan kita menjadi umat yang lemah dan miskin. Berikut beberapa tips untuk memperbaiki keuangan kita.

Bedakan keperluan dan keinginan. Setiap kali hendak merogoh kocek, tanyakan kepada diri kita “Apakah saya benar-benar butuh, atau cuma ingin?”

Kurangi kuantitas, bukan kualitasnya. Jika di Februari yang indah ini kita mendapat kenaikan gaji, mungkin kita tergoda untuk meningkatkan frekuensi kita makan di restoran. Mari kita renungkan. Jika sebelumnya kita sudah bahagia dengan makan di restoran sekali seminggu, kenapa kita jadi menderita jika tak melakukan hal tersebut dua kali seminggu setelah gaji naik? Benarkan kunjungan ke tempat-tempat makan yang sedang ngehits di medsos menjadi kebutuhan penting?

Bersyukur dan rendah hati. Bersyukur dan rendah hati adalah obat paling mujarab untuk menjauhkan kita dari hidup boros.

Fokus pada masa depan. Ada banyak tanggung jawab yang dipercayakan ke pundak kita: pendidikan anak-anak kita, menyokong hidup orang tua, menunaikan ibadah ke tanah suci, beramal, mengamankan masa pendiun dan berbagai tujuan mulia lainnya. Dengan memiliki misi besar seperti ini, lebih mudah buat kita untuk menggunakan uang dengan tepat dan bijak.

Tularkan pada si kecil. Irit adalah sifat yang baik, bekal hidup yang penting bagi anak-anak kita. Karenanya, ajarkan kepada mereka sejak kecil, dan ajak mereka ambil bagian dalam pengiritan keluarga kita setiap hari.

Semoga dengan irit, harta yang dipercayakan kepada kita menjadi lebih bermanfaat, berkah bagi diri sendiri dan orang lain.

Sumber: www.reksadana-manulife.com